» » Liburan Bernuansa Rekreatif & Edukatif (Bagian 1)

Liburan Bernuansa Rekreatif & Edukatif (Bagian 1)

Penulis By on Tuesday, December 24, 2019 | No comments



Oleh : Sholih Hasyim, S.Sos.

Mendengar kata libur atau liburan, boleh dibilang semua orang pasti bergembira. Mulai dari anak TK, sampai mahasiswa, para pekerja profesional ataupun pejabat sekalipun. Gembira mendengar besok libur, atau sebentar lagi musim liburan panjang adalah bagian dari fitrah manusia.

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” QS. Ar-Rum:30.

Musim liburan sudah di depan mata. Masa yang penuh sukacita untuk mengembalikan kehangatan sebuah keluarga maupun mempererat pertemanan setelah disibukkan dengan aktivitas rutin dalam bekerja, belajar atau kuliah.
Saatnya kita mengambil waktu jeda untuk mengistirahatkan otak dan membuatnya segar kembali, merehatkan fisik untuk menjadikannya bugar kembali, menghidupkan ruhani untuk senantiasa hidup selalu.

Liburan dalam Kaca Mata Islam
Islam agama fitrah dan seimbang. Islam menganjurkan pemeluknya untuk bekerja juga berlibur. Menyuruh untuk beribadah juga rahah atau refressing. Menggapai sukses di dunia juga sukses di Akhirat.

Berlibur pada dasarnya adalah mengalihkan waktu dengan melaksanakan kegiatan yang bertujuan rehat, atau menggunakan waktu dengan bersantai, terbebas dari rutinitas keseharian, namun tetap bernilai ibadah dan bermanfaat. Tidak ada yang sia-sia dalam setiap jenak-jenak kehidupan seorang muslim.

Bagaimana Islam memandang kegiatan yang tujuannya untuk tarwih atau refressing, seperti berlibur ini? Allah swt. berfirman berkaitan dengan anjuran untuk mengadakan perjalanan atau traveling di muka bumi (salah satu contoh bentuk kegiatan berlibur):

“Katakanlah: “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” QS. An-Naml:96.

“Pada dasarnya tabiat manusia sebagaimana yang Allah swt. ciptakan tidak suka beban yang memberatkan, bosan dengan pekerjaan yang melelahkan, capek jika semua kesempatan tersita untuk bekerja, lebih lagi pekerjaan yang membebani jiwa, seperti amal ibadah. Karena kadang rasa bosan dan capek menyergap ke relung jiwa, sehingga menyebabkan drop dan gagal. Manusia membutuhkan suasana yang bisa merehatkan jiwanya, otaknya, dan fisiknya.”[1]

Karena itu Rasulullah saw. bersabda: “Hendaknya (wajib) bagi kalian bekerja atau beramal yang tidak memberatkan. Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sampai kalian sendiri merasa bosan.” HR. Muslim.[2]

Imam Abu Daud dalam kumpulan Marasilnya mengatakan: “Rehatkan jiwa kalian sesaat kemudian sesaat lagi.”[3]

Sholih Hasyim, S.Sos., Penulis Buku dan Dewan Syuro DPP Hidayatullah

>>> Bersambung....
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya