» » » Bukan Silaturrahmi

Bukan Silaturrahmi

Penulis By on Monday, May 25, 2020 | No comments

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
Bukan silaturrahmi jika kita mendatangi rumah seseorang yang bukan keluarga, tak ada hubungan nashab sama sekali. Silaturrahmi itu hanya berlaku untuk upaya kita menyambung kembali hubungan dengan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita, baik dari jalur ayah maupun ibu. Adapun jika kita mendatangi rumah seseorang, maka itu hanya merupakan kunjungan (ziarah) biasa, sebagaimana berkunjungnya seseorang ke rumah teman atau guru. Hanya saja, di negeri ini kata ziarah sudah terlanjur sangat melekat dengan kubur karena seringnya orang menyebut secara berurutan, yakni ziarah kubur. Ketika saya masih tinggal di Jombang, kata ziarah sering digunakan untuk menyatakan maksud berkunjung. Tetapi setelah di Yogya, kata ziarah sudah sangat jarang terdengar.
Maka, sebelum berbincang tentang fadhilah silaturrahmi, kita perlu kembalikan kepada makna silaturrahmi yang dimaksud dalam Islam. Ini penting karena sekarang semakin bergeser jauh dari maknanya. Politisi, tokoh masyarakat dan apalagi trainer wirausaha, sering menggunakan kata "silaturrahmi" sesuai kepentingan masing-masing. Jauh lebih aman, sebenarnya, menggunakan istilah lain agar umat ini tidak semakin asing dengan pengertian sesungguhnya sesuai maksud syari'at. Apalagi jika pemahaman justru sampai bertentangan dengan syari'at.
Mari ingat sejenak sabda Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam tentang silaturrahmi ini. Beliau bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Bukan silaturrahmi orang yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus." (Muttafaqun 'alaih).

Nah. Jadi bukan silaturrahmi kalau kita mendatangi rumah sahabat kita. Bukan silaturrahmi namanya ketika kita berkunjung ke rumah seseorang untuk merayu agar ia mau menjadi anggota dari perkumpulan kita. Bukan pula silaturrahmi ketika kita bersibuk mendekati seseorang agar mau beli produk kita atau mau menjadi down-line di MLM. Bukan. Itu bukan silaturrahmi.

Melalui kegiatan mengunjungi rumah orang-orang yang kita dekati, memang kita bisa membentuk jaringan (business network) sehingga usaha kita berkembang. Tetapi janganlah memperalat istilah syari'at untuk sesuatu yang tidak dimaksudkan oleh syari'at.

Berkunjung ke rumah orang-orang yang shalih di antara teman maupun guru kita serta duduk bersama mereka sangat besar kebaikannya. Tetapi ini bukan termasuk silaturrahmi. Ini merupakan bab yang berbeda.

Silaturrahmi sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadis itulah yang akan berlimpah keutamaan. Sedangkan memutus silaturrahmi merupakan keburukan yang sangat besar. Tentang keutamaan silaturrahmi, mari kita ingat sabda Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi." (Muttafaqun 'alaih).

Ada banyak sebab yang menjadikan hubungan kekerabatan terputus. Bisa karena konflik, baik yang terjadi pada masa kita atau bahkan kita sendiri turut terlibat di dalamnya (na'udzubillahi min dzalik) atau konflik di masa lalu yang terjadi pada generasi orangtua kita atau sebelumnya. Dapat terjadi juga, putusnya silaturrahmi bersebab terlalu jarangnya tidak bertemu atau bahkan sampai tidak saling mengenal muka dan nama. Saat ini misalnya, ada banyak keluarga yang tinggal di Jeddah dan menjadi warga negara Arab Saudi, tetapi saya tidak mengenalnya lagi. Begitu pula di Malaysia dan Singapura. Mereka berpindah atau mukim di sana semenjak generasi orangtua saya, sebagiannya sejak generasi kakek saya. Nah, mengunjungi mereka untuk menjalin hubungan kekerabatan yang telah terputus inilah makna dari silaturrahmi.

Banyak keutamaan silaturrahmi. Tetapi ini tidak berarti silaturrahmi akan selalu berbuah sambutan hangat dan penerimaan yang baik. Ini semua bukan urusan kita. Andai kerabat kita menyambut kita dengan ketus, maka bersabar terhadapnya merupakan kebaikan. Ketusnya sambutan bukan penghapus keutamaan. Yang menjadi pegangan kita adalah: silaturrahmi merupakan sunnah Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Bersama sunnah ada barakah. Maka urusan kita adalah menjalankan sunnah. Bukan memperkirakan sambutan yang akan diterima.

Urusan kita adalah: menjaga diri agar tidak termasuk orang yang memutuskan hubungan kekerabatan. Dan seburuk-buruk pemutusan hubungan kekerabatan adalah terhadap orangtua.

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para shahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulallah,” Nabi bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari).

Mungkin ada di antara kita yang kecewa terhadap perilaku atau perlakuan sebagian orangtua. Tetapi ini tidak dapat menjadi sebab bagi kita berlaku buruk terhadap mereka. Kita mungkin kecewa, tetapi bersabar dan ridha atas apa yang terjadi --jika sekiranya orangtua memang memiliki akhlak yang tidak patut (na'udzubillahi min dzalik)-- merupakan kebaikan. Wallahul musta'an.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga bermanfaat.
Tulisan lawas, awal Februari 2013. Semoga tetap bermanfaat dan barakah.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya