» » Tingkatkan Pengaruh dengan Menjadi Emphatic Listener

Tingkatkan Pengaruh dengan Menjadi Emphatic Listener

Penulis By on Tuesday, March 16, 2021 | No comments


Oleh : Jamil Azzaini

Stephen R Covey pernah berkata : “Cara terbaik untuk meningkatkan pengaruh adalah dengan menjadi pendengar.” Tidak semua orang yang mendengar adalah pendengar yang baik. Stephen R Covey dalam bukunya The 7 habits of Highly Effective People menjelaskan ada 5 level mendengar. Kira-kira kita termasuk di level yang mana ya? Mari kita lihat.

Level terendah adalah Ignore (mengabaikan). Pada level ini, kita sibuk melakukan aktifitas lain saat orang lain berbicara. Level kedua pretend to listen (pura-pura mendengar), saat orang lain berbicara, kita berada di depannya, namun pikiran kita melayang kemana-mana.

Level ketiga, selective listening, kita mendengarkan hanya dibagian-bagian yang kita anggap penting.

Level keempat, attentive listening, mendengar dengan penuh perhatian namun tetap dengan menggunakan kacamata kita.

Di level yang paling tinggi adalah emphatic listening,  mendengar dengan sepenuh hati, menangkap perasaan, melihat apa yang dibicarakan dari sudut pandang pembicara, menempatkan posisi sebagai orang yang berbicara, tidak melakukan penilaian dan evaluasi atas apa yang sampaikan orang tersebut.

Nah, kira-kira Anda termasuk pada level yang mana? Apabila Anda ingin meningkatkan pengaruh di rumah, di kantor dan di pergraulan sosial, berlatihlah untuk sampai pada level yang tertinggi.

Ada tiga cara untuk menjadi emphatic listener, silakan Anda coba tiga cara berikut ini;

Pertama, Hadir penuh, sadar utuh.  Bukan hanya fisik kita yang hadir tetapi juga pikiran, hati dan perasaan kita. Saat kita mendengar bukan hanya mengoptimalkan peran telinga tetapi juga menggunakan mata untuk melihat bahasa tubuh, mimik wajah, tingkah laku orang yang sedang berbicara. Selain itu, gunakan pikiran dan perasaan kita untuk menangkap pesan sesungguhnya dan emosi mereka.

Kedua, menggali pikiran dan perasaannya. Apabila kita ingin memperjelas apa yang dimaksud oleh lawan bicara dan juga mengapresiasi perasaannya, kita boleh menggali atau mengajukan pertanyaan konfirmasi dengan tujuan untuk memahami pesan dengan tepat dan juga menangkap perasaannya. Bukan untuk mengevaluasi, menasehati, apalagi menghakimi.

Gunakanlah kata-kata yang digunakan oleh lawan bicara. Misalanya orang itu mengatakan “Pak, saya sebel banget dengan pimpinan baru saya saat ini.” Maka kita boleh mengajukan pertanyaan  “oh, saat ini Anda sedang sebel banget ya, kalau menggunakan skala 1-10, dimana 1 itu biasa saja dan 10 itu sebel banget. Kira-kira sebel Anda saat ini, berada di level berapa? Mengulang kata yang digunakan oleh lawan bicara akan membuat orang tersebut meyakini bahwa kita menyimak apa yang mereka sampaikan.

Ketiga, bersabar untuk tidak berkomentar. Orang memang cenderung berkomentar dengan sudut pandang, ilmu dan wawasan yang dimilikinya saat mendengarkan sesuatu. Mulai saat ini, bersabarlah untuk berkomentar mengevaluasi apalagi menasehati orang yang berbicara dengan kita.

Semula saya mengganggap, dengan berkomentar orang tersebut akan semakin menghargai dan respek dengan kita. Ternyata faktanya tidak. Mereka justeru akan menghargai dan respek dengan kita saat kita tidak berkomentar, kecuali setelah mereka meminta komentar dari kita.

Apabila ketiga hal tersebut di atas kita latih, secara perlahan pengaruh kita kepada orang lain terus meningkat. Apabila Anda pimpinan, pengaruh Anda kepada anggota tim semakin meningkat. Apabila Anda orang tua, pengaruh Anda kepada anak-anak juga akan semakin meningkat. Teruslah berlatih menjadi emphatic listener, berbagai keajaiban akan datang kepada Anda tanpa diundang.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : www.jamilazzaini.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya