» » Menguji Sang Kekasih

Menguji Sang Kekasih

Penulis By on Monday, May 3, 2021 | No comments


Oleh : Jamil Azzaini

Sepasang kekasih yang jatuh cinta itu memiliki banyak tanda. Bila kita ingin tahu apakah kita benar-benar jatuh cinta atau tidak dengan kekasih, kita pun bisa mengujinya. Alat ujinya cukup sederhana, kita perlu menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

Pertama, apakah kita senang saat berjumpa dan berdua dengannya? Apabila jawabannya sangat senang itu pertanda bahwa kita memang mencintainya. Apabila menggunaka skala 1-10, dimana 1 tidak senang dan 10 sangat senang, nilai kita mendekati 10, itulah pertanda kita jatuh cinta. Bukan hanya itu, terkadang pun kita mencari-cari alasan untuk bisa berjumpa dan berdua dengan-Nya.

Sebaliknya, apabila kita sebel atau merasa tidak nyaman dan bosan saat berjumpa dan berdua, sehingga kita ingin buru-buru berpisah atau mengakhiri pertemuan, itu pertanda kita belum jatuh cinta. Cinta kita semu, cinta kita hanya ngaku-ngaku.

Kedua, apakah kita mengutamakan apa yang dicintai sang kekasih? Apabila jawabannya Ya, itu pertanda bahwa kita jatuh cinta. Apa yang disukai kekasih selalu kita prioritaskan, bahkan mengalahkan apa yang kita sukai. Kekasih kita menjadi top of mind dalam pikiran kita. Apa yang dicintai sang kekasih selalu diupayakan ada atau selalu dilakukan meski kita jauh dengannya, itulah pertanda bahwa kita memang sangat mencintainya.

Ketiga, apakah kita sering mengingatnya? Apabila jawabannya Ya, bahkan hampir dalam setiap kesempatan kita selalu mengingatnya, itulah tanda bahwa kita memang sangat mencintainya. Terkadang kita melihat fotonya, mencari tahu statusnya di social media, membayangkannya saat sendiri, menghubunginya lewat berbagai cara, bahkan terkadang kita berharap sang kekasih hadir dalam mimpi kita.

Tiga pertanyaan ini, juga bisa menjadi alat uji apakah kita mencintai Sang Maha Kekasih, Allah swt. Apakah kita senang saat berjumpa dan berdua dengan-Nya? Misalnya, Allah swt hadir di sepertiga malam, apakah kita senang menjumpainya? Apakah kita senang ngobrol atau bercengkerama di waktu itu?

Atau kita biarkan Sang Maha Kekasih hadir, sementara kita masih terlelap tidur. Hingga kemudian Dia berkata: “Aku hadir, tetapi kau lupa untuk datang.” Bila kejadian ini terlalu sering, layakkah bila kita mengaku bahwa kita sangat mencintai-Nya?

Begitupula dalam hal mengutamakan, benarkah kita sering memprioritaskan Allah swt? Saat kita dipanggil dengan suara Adzan, apakah kita bersegera memenuhi panggilannya? Atau kita masih sibuk mengerjakan yang lain? Tentu Anda lebih tahu jawaban Anda. Begitu pula dalam aktivitas sehari-hari, apakah kita sudah memprioritaskan apa yang dicintai Sang Maha Kekasih?

Bagaimana dengan mengingat-Nya? Seberapa sering kita mengingat-Nya? Seberapa sering kita rindu ingin berjumpa dengan-Nya dan seberapa sering kita terus berharap bisa menatap wajah-Nya?

Setelah membuat tulisan ini, saya terpaku sejenak sambil berucap: “Duh, Kekasihku, maafkan aku bila aku hanya ngaku-ngaku mencintai-Mu tapi ternyata ucap dan lakuku belum mencerminkan bahwa aku benar-benar mencintai-Mu. Namun demikian, izinkan aku untuk tetap berharap menjadi kekasih-Mu, duhai Sang Maha Kekasih yang selalu kurindu.”

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator Sukses Mulia

Sumber : www.jamilazzaini.com

Foto : Freepik

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya