» » Bila Hati Terserang “Sariawan”

Bila Hati Terserang “Sariawan”

Penulis By on Tuesday, June 22, 2021 | No comments


MAKANAN
 dan minuman selezat apa pun tidak akan bisa dinikmati jika mulut kita dipenuhi luka sariawan. Mencoba mencicipi kelezatannya hanya akan menjadi siksaan yang menyakitkan, tapi hanya diam memandanginya juga akan menjadi siksaan yang lain.

Begitulah lezatnya sajian-sajian syariat Islam. Ia tidak mungkin dinikmati oleh hati yang mengalami ‘sariawan’. Namun, bukankah lebih perih lagi jika kita membiarkan hati samasekali tidak tersentuh oleh Islam?

Hati siapa pun yang dilanda ‘sariawan’ pasti merasakan kepedihan setiap kali bersentuhan dengan syariat Islam. Ia akan merasakan larangan-larangan Allah bagaikan tembok penjara, sementara perintah-perintah-Nya seperti beban maha berat yang mematahkan punggung.

Larangan mengumbar aurat dinilai sebagai pembatasan berekspresi bahkan penindasan hak asasi, sedang perintah shalat lima waktu dianggap tambahan kegiatan di tengah-tengah agenda harian yang sudah menggunung. Astaghfirullah!

Lantas, apa jalan keluarnya? Kisah kegagalan menikmati berislam seringkali mirip gangguan sariawan, yang terkadang bermula dari kesalahan dalam pola makan, misalnya kurang minum, sedikit konsumsi serat, atau terlalu banyak makanan pedas dan berminyak; selain faktor stres dan menurunnya daya tahan tubuh.

Oleh karena itu, diantara terapi mengatasi “sariawan hati” adalah membenahi cara dalam berislam itu sendiri.

Sahl al-Tustari (zahid termasyhur, w. 283 H) berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sebelum di dalam dirinya terkumpul empat perkara, yaitu: melaksanakan hal-hal yang fardhu dengan mengikuti Sunnah, memakan yang halal dengan dilandasi sikap wara’, menjauhi yang dilarang baik dari sisi lahir maupun batin, dan bersabar di atas semua itu sampai kematian menjemputnya.” (Ihya’ ‘Ulumiddin, II/91).

Di sini, beliau menyarankan empat resep. Pertama, perhatikan bagaimana pelaksanaan ibadah-ibadah fardhu. Sebetulnya, kewajiban-kewajiban Islam sudah ditakar sedemikian tepat sehingga tidak mungkin memberatkan (lihat: Qs. Al-A’raf: 157).

Tapi, ibadah apa pun akan terasa berat jika kita keliru mempraktikkannya, misalnya tidak tepat waktu, ditempeli ajaran-ajaran yang bukan bagian dari Islam, atau dilebih-lebihkan sehingga melampaui kadar sewajarnya.

Cobalah shalat tepat waktu, dan rasakan bahwa setelah itu segala sesuatu menjadi demikian lapang. Bila kita shalat subuh di awal waktu, kita tidak akan tergesa-gesa memulai aktivitas harian. Bahkan, tersedia kesempatan ekstra untuk tilawah Al-Qur’an, berdzikir, mendengar kuliah subuh, membaca, menulis, jogging, atau sekedar jalan-jalan menikmati suasana pagi dan menyapa tetangga kiri-kanan.

Tapi, bila kita mengerjakannya pada saat injury time bahkan telat, segala sesuatu di hari itu akan dimulai dengan amat buru-buru. Ibadah fardhu juga akan terasa sangat berat bila ditempeli amalan-amalan yang tidak ada dasarnya dalam Sunnah Nabi.

Shalat memang harus disertai thaharah (bersuci), namun was-was dalam bersuci adalah bisikan syetan. Keraguan dalam niat juga cermin memberatkan diri dalam beribadah, sampai berkali-kali bertakbir namun tidak kunjung masuk ke dalam shalat.

Membaca surah Al-Fatihah dengan fasih juga penting, namun mengulang-ulang pengucapan sebagian kata di dalamnya hanya karena kurang yakin pada makhraj salah satu huruf jelas menyulitkan siapa pun. Dalam hal ini, kita diminta bersikap pertengahan, yakni tidak sembrono tetapi jangan pula ekstrem.

Kedua, bersikap wara’ dalam mengkonsumsi yang halal. Wara’ artinya hati-hati jangan sampai terjatuh kepada yang haram, dengan menjaga diri bila sudah mendekati garis-garis makruh dan syubhat.

Sebenarnyalah, kita diminta bersikap wara’ justru dalam hal-hal yang halal, sebab untuk yang haram kita sudah pasti tidak ingin memakannya secara sengaja. Seorang muslim tidak mungkin memesan daging babi atau miras di warung yang didatanginya, namun ia harus hati-hati mengkonsumsi sesuatu yang halal dan berpeluang besar untuk tercemari unsur babi atau alkohol.

Segala yang haram pasti merusak kenikmatan berislam; baik haram dari segi zatnya maupun sumber pendapatannya. Makanan haram menjadikan tubuh memberontak bila diajak menaati Allah, sebaliknya akan menurut ketika dibawa bermaksiat. Akibatnya, shalat tidak terasa khusyu’ dan doa-doa seolah tidak ‘nyambung’.

Sahl al-Tustari berkata, “Siapa memakan yang haram niscaya organ-organ tubuhnya akan bermaksiat, entah dia mau atau tidak, tahu atau tidak.” (Ihya’ ‘Ulumiddin, II/91).

Ketiga, menjauhi kemaksiatan baik lahir maupun batin. Zaman ini adalah masa yang teramat berat untuk menghindari maksiat-maksiat, entah yang tampak nyata maupun tersembunyi. Internet dipenuhi gambar cabul dan tidak seronok, sementara televisi menyajikan ghibah (menggunjing) yang ditopengi dengan infotainment.

Bahkan, di jalanan di mana pun kita bisa menyaksikan kaum hawa yang membuka auratnya, atau mengenakan pakaian ketat yang menampakkan lekuk-liuk tubuhnya, baik sosok hidup maupun gambar-gambar di poster iklan.

Mungkin kaum lelaki tidak tertarik kepada orangnya, tetapi jelas mudah tergoda oleh auratnya! Hanya saja, karena ini adalah zaman yang dipilihkan oleh Allah untuk kita, maka kita harus berjuang semaksimal mungkin untuk beramar ma’ruf nahi munkar, serta mematuhi syariat-Nya seraya memohon pertolongan dan ampunan dari-Nya.

Resep terakhir adalah bersabar dalam mengamalkan Islam sampai kapan pun. Tidak ada bekal hidup yang semelimpah kesabaran.

Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa berusaha untuk bersabar, niscaya Allah akan membuatnya sabar. Dan, seseorang tidak diberi karunia yang lebih baik serta lebih lapang dibanding kesabaran.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id).

Semoga Allah mengobati hati-hati kita yang “sariawan”, sehingga kelezatan Islam bisa kita nikmati sebagai karunia terbesar dari-Nya. Amin. Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar

Sumber : www.hidayatullah.or.id

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya