Showing posts with label Atin. Show all posts
Showing posts with label Atin. Show all posts

Iman Berlandaskan Ilmu

Oleh : Prihatiningsih

Ilmu adalah sesuatu yg bersifat spiritual, untuk meraihnya, diperlukan kesiapan mental. Ilmu adalah Anugrah dan amanah dari Allah yang akan mengisi jiwa-jiwa manusia dengan cahaya (Nur) yang akan membedakan manusia dengan Makhluk Allah yang lain.

Ilmu akan bisa diperoleh, jika manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Memperhatikan adab dalam menuntut ilmu dan menghormati sumber ilmu (Guru, Buku, teman). Bahkan saya pernah mendengar cerita salah satu pulik figur bahwa, kita membaca siroh saja kalau bisa mandi, wudhu, pakai pakaian yg menutup aurat dan rapi. Kenapa? Karena kita ingin dekat dengan Rasul. Membaca siroh artinya belajar mencintai Rasul. Jika kita ingin masuk ilmu yang kita kaji, maka perhatikan adabnya, jleeb banget sih...

Nah dalam buku "Adab Guru dan Murid" ini pun sama.. Kita harus memperhatikan adab saat menuntut ilmu. Kenapa? Karena ilmu akan mudah masuk jika kita ta'dzim kepada pemberi ilmu.

Adab dan Ilmu memang selalu beriringan. Hasil dari adab dan ilmu adalah keimanan. Jika seseorang telah belajar dengan baik, maka dia akan dia akan berimanlah (yakin) terhadap apa yg dia kaji. Ilmu dan iman ibarat koin mata uang. Memiliki 2 sisi, yaitu keberadaan yang satu mencerminkan eksistensi sisi yg lain. Dan dia selalu bersama dalam 1 wadah yang tak akan terpisahkan.

Tidak ada iman tanpa dilandasi ilmu, dan mustahil ilmu tidak melahirkan iman. Jika keduanya bersatu, maka ilmu tersebut pasti akan menjadi ilmu yang bermanfaat, karena orang yg beriman dengan ilmu, akan mengaplikasikan ilmunya sesuai dengan apa yang dia kaji dan dia yakini. Tidak akan disalahgunakan dan tidak mungkin ia ingkari. Karena dia meyakini ilmu tersebut atas dasar keimanan kepada Allah ta'ala..

Allahu a'lam bishowwab

Prihatiningsih, Pendidik dan Aktivis Dakwah


Cara Berterimakasih Paling Sederhana



اَفَلَا يَنۡظُرُوۡنَ اِلَى الۡاِ بِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ
“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?”

وَاِلَى السَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ
“Dan langit, bagaimana ditinggikan?”

وَاِلَى الۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ
“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”

وَاِلَى الۡاَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ
“Dan bumi bagaimana dihamparkan?”

فَذَكِّرۡ اِنَّمَاۤ اَنۡتَ مُذَكِّرٌ
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.”

(Al Ghasyiyyah:17-21)

Dari ayat tersebut, pantaslah manusia takjub dengan tanda-tanda kebesaran Allah. Bagaimana tidak, gunung sebesar itu menjadi kawan kita sehari-hari, padahal bisa saja dia meletus kapan saja, sejak statusnya waspada, dia menjadi "momok" bagi penghuni Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Namun, pagi itu aku melihat dia (Gunung Merapi) begitu gagah dan anggun dengan segala tipu daya yang ada. Warnanya yang tampak indah bisa dilihat dari kejauhan, bersih seperti gambar yang tidak akan mungkin bisa bergejolak.

Kegagahan itu bukan untuk dinikmati saja keindahannya, tapi juga agar manusia ber iqro' (membaca) kepada alam, bahwa Allah Taala telah menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia. Menjadikannya begitu bersahabat dengan warga Yogyakarta meski beberapa kali mengakibatkan keresahan yang tiada tara.

Allah, bersyukurnya aku hari ini dan seterusnya, semoga Engkau memberikan kenikmatan Islam ini terus menghujam dalam diri. Agar senantiasa mampu per iqro' dan memahami apa yang ada di alam tanpa menyiakan yang ada. Tanpa menganggap remeh nikmat walau hanya sekecil biji Zarrah. Nikmat nafas yang gratis pun tak mampu kita bayar dengan apapun. Maka, memperbaiki segala yang ada, adalah ikhtiarku untuk berterimakasih kepada-Mu.

Allah... Thank U so much for my life. I'm so blessed everytime.

Prihatiningsih, Redaktur www.majalahfahma.com

Memberi Tanpa Meminta

Oleh : Prihatiningsih

Keberkahan Hari Jum'at.. ⁣
Yaa,  hari Raya Pekanannya ummat adalah jum'at.. Hari baik,  dan berkah.  Sunnah-sunnah juga banyak di hari jum'at.  Seperti membaca Surat Al Kahfi,  memotong kuku,  dll. ⁣

Naah hari ini,  anak-anak ku diajarkan untul berbagi,  dan dihari yang MasyaAllah ini.. Mereka berbagi kepada gurunya,  terserah siapapun yang mau dipilih.  Alhamdulillaah.. Hari ini dapet persembahan yang banyaak sekali dari ananda ku smua.. ⁣

Bayangkan,  manusia aja seneng kalau dikasih persembahan terbaiknya.. Dibungkus kado sengan rapi,  dikasih dengan senyuman dan bilang "ini buat (...) , aku sayang (...) karena Allah" naah kan makin meleleh jadinya.. ⁣

Sekarang coba kalau kita yang kasih persembahan ibdah terbaik kita untuk Allah.. Bukan agar Allah kita punya banyak pahala,  tapi agar Allah Ridho dan seneng dengan apa yang kita lakukan,  sebagai bentuk terimakasih kita,  karena Allah sudah mengizinkan kita menghirup O2 dengan gratis,  menikmati udara dengan nyaman.. ⁣

Yaa hari ini aku dapet pelajaran sederhana yang menyentuh.. ⁣

1. Banyak rezeki yang Allah kasihkan,  sudahkah kita bersyukur? ⁣

2. Banyak orang berbuat baik tanpa dia harus di baikin dulu ⁣

3. Memberi tanpa pamrih,  bahkan tanpa dia tau siapa yang diberi,  dan akankah dia dibaikin ketika dia memberi?  Naah itu tidak ada dalam benak mereka.  Keikhlasan begitu nyata.. Senyum tulusnya berbicara ⁣

4. Menjadi baik tidak Rumit.  Hanya dengan senyum nasih,  tutur lembut,  dan sedikit hadiah walau hanya 1 buah permen saja.. Sudah cukup membuat bibir menjadi merekah.

Masyaallah.. Tabarakallah

Prihatiningsih, Redaktur www.majalahfahma.com

Guru Kehidupan : Dedikasi Tinggi Seorang Pengabdi


Oleh : Atin

Pekerjaan adalah sesuatu yang sangat melekat pada setiap manusia yang hidup secara normal. Semua perkerjaan pasti dilakukan selama dia masih mampu. 

Saat aku mulai mengarungi samudera kehidupan yang berbeda dari biasanya, terkadang rasa jetlag itu masih meliputi nafsu idealis yang ada. Dari dunia mahasiswa menuju dunia kerja.. 

Sekali saja, Allah tak akan pernah salah menempatkan kita diposisi yang ada.  Mungkin jika kita kurang nyaman, bukan Allah yang salah menempatkan atau kita tidak sesuai dengan ritmenya, tapi coba kita yang menyesuaikan dan berfikir "Oh aku harus nya begini", sehingga akhirnya bisa sejalan dengan ritme kerja yang ada. 

Bicara tentang dedikasi, tidak semua orang memiliki. Hanya dia yang mampu menjiwai setiap profesi dengan nurani yang bersih dan suci. Tidak ada niat buruk yang hinggap di kepala saat menjalani setiap inchi profesi yang dihadapi. Bukan seberapa kuat posisi dia dalam ruang kerjanya, tapi seberapa besar pengorbanan dan keikhlasan yang dia punya untuk mengerjakan setiap masalah yang ada.  Membantu urusan orang lain, yang sudah cukup membuatnya bahagia. Entah ada atau tidak tambahan upahnya, yang jelas, kebahagiaan itu hadir sejalan dengan tuntasnya kerja yang ada.

Pekerjaan dan dedikasi adalah 2 hal yang harus dimiliki oleh seorang insan yang mengharap Ridho Illahi. Bahkan, kalaupun dia ditakdirkan harus menjadi seorang penyapu jalanan, hendaknya dia menyapu jalan dengan sempurna selayaknya Chairil Anwar yang menyuratkan bait-bait puisinya. Begitu juga dengan profesi lain, hendaknya mengerjakan setiap amanah yang dibebankan dengan sungguh-sungguh. 

Mendedikasikan diri dari awal, mengazamkan niat saat pertama amanah itu datang. Bukan untuk mencari pujian atau gaji tambahan, tapi untuk menuntaskan amanah yang diemban, agar tidak menyisakan siksa saat kita telah dimakamkan. 

Aku, selalu tak mampu menahan air mata saat melihat pengorbanan orang-orang yang begitu besar untuk satu amanah pekerjaan yang ada.  Bukan aku merasa kasihan terhadap bertumpuknya kerjaan, tapi karena aku iri, mereka yang sudah tidak muda saja mampu, bagaimana dengan aku yang masih muda namun suka mengeluh?

Menganggap amanah itu beban yang sangat berat, padahal amanah bukanlah beban, dia adalah pemberat amalan yang Allah sediakan saat kita menjalankan dengan hati yang lapang. Menganggap apa yang mereka kerjakan bukanlah apa-apa. Ini nih yang membuat aku sangat terkesan. Seakan dia sedang menerapkan peribahasa "Tangan kanan memberi, tangan kiri tak tahu", ya… mereka itulah sesungguhnya peribahasa itu. Keikhlasan itu begitu terlihat jelas di dalam jiwa-jiwa mereka.

Oh Allah, bagaimana bisa aku menahan airmata sata Engkau mempertemukan aku dengan orang-orang hebat yang selalu memberiku inspirasi dan membakar kembali semangat saat api itu sudah mulai padam? Air mata haru atas kasih sayang Allah yang selalu menyadarkan bahwa aku tidaklah boleh menjadi wanita yang mudah menyerah dan putus Asa.

Allah memang Maha Tahu. Dia tahu kalau makhluknya ini masih suka mengeluh dan kurang sabar, sehingga Dia datangkan langsung di depan mata, orang yang menyadarkan "tidur panjangku" selama ini.

Wahai anak muda, seberapa besar dedikasimu atas profesi indahmu itu? 

"GURU"

Terimakasih guru kehidupanku. Semoga Allah senantiasa menjagamu.

Atin, Pimpinan Redaksi www.majalahfahma.com

Menjadi Guru Visioner



Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Guru, dalam Bahasa Jawa ada yang namanya “jarwa dhosok” atau “kerata basa” yaitu (Jarwa: penjelasan; Dhosok: salah satu artinya adalah menyatukan). Penjelasan dari sebuah kata dari penyatuan suku kata. Dari pengertian tersebut, jika kita tarik kata GURU dengan makna “jarwa dhosok” maka artinya adalah diGUgu lan ditiRU. Digugu artinya didengarkan sedangkan ditiru adalah dicontoh. Makna ini lain dari kata guru secara umum adalah orang yang mampu memberi contoh perilaku yang baik (uswatun hasanah) terhadap anak didik maupun limgkungan sekitarnya. Makna ini sangat dalam jika kita mencermatinya. Harapan yang begitu besar diamanahkan kepada guru, baik guru sekolah, guru ngaji, guru kehidupan, atau apapun itu.

Harapan dan impian terkadang terlimpahkan kepada tittle guru tersebut. Apalagi guru yang mendominasi kehidupan. Misalnya guru sekolah, guru ngaji, atau guru pesantren. Hampir setengah hari lebih kehidupan anak dipengaruhi oleh guru dan juga lingkungan belajarnya. Hal yang sering dinggap enteng adalah menganggap bahwa belajar di sekolah hanya sebatas ilmu pelajaran seperti matematika, IPA, IPS, dll tanpa memikirkan setelah mereka pulang bagaimana? Apakah masih berlanjut belajar atau tidak? Pahamkah mereka dengan apa yang disampaikan atau sekedar mengisi absen tanpa ada rasa “memiliki” terhadap anak didik? Sedangkan makna guru yang teremban memiliki harapan yang besar untuk mencerdaskan bangsa. Guru selalu memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilaku yang buruk.

Oleh karena itu, guru mempunyai kedudukan tinggi dalam agam Islam. Dalam ajaran Islam pendidik disamakan ulama yang sangatlah dihargai kedudukannya. Hal ini dijelaskan oleh Allah maupun Rasul-Nya. Firman Allah Swt:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadalah 11)

Nah, bagaimana kita bisa menjadi guru yang memiliki visi dan misi yang baik? Tentunya dengan kesadaran bahwa menjadi seorang guru bukanlah tittle untuk berbangga-bangga, namun gelar yang sangat berat jika niat kita tidak lurus. Niat yang lurus tercermin dari tanggungjawab yang baik. Selain itu, penyampaian juga perlu diperhatikan agar tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembut, masing-masing memiliki porsi yang telah ditetapkan, sebagaimana yang ada dalam hadist berikut :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah”. (HR. Muslim No 2703)

Maka adanya hadist-hadist dan Firman Allah ini harusnya mampu memberikan motivasi spiritual agar niat yang lurus senantiasa mengiringi langkah seorang guru/pendidik, karena dari motivasi spiritual biasanya akan muncul semangat yang membara yang disertai dengan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan semata-mata hanya untuk meraih Ridha Allah SWT. Cara agar Allah Ridha adalah melakukan hal yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang, sehingga dalam proses belajar mengajar, harus dipahami bahwa apa yang diajarkan harus sesuai dengan aturan Allah. Tauhid yang shahih, kesadaran beribadah yang baik, dan juga menjalankan aturan tanpa paksaan.

Seorang pendidik harus memiliki jiwa pemimpin agar ia mampu memberikan nasihat dan contoh yang dapat didengar dan dilaksanakan oleh para anak didiknya. Maka, jadilah guru yang berwibawa dengan ilmu, santun dalam perilaku, dan sopan dalam bergaul. Barakallahufiikum

Prihatiningsih, S.Si., Redaktur Majalah Fahma

Inilah Jalan Pilihanku


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Apalagi yang menjadi pengemban dakwah selain Ridha Allah? Tidak ada. Karena memang harusnya tak ada satupun tujuan kecuali Allah.
Baca : Hijrahnya Karena-Nya atau Karena Dia
Bagaimana asa bisa tergapai jika tujuannya hanya untuk sementara? Apasih yang dicari di dunia? Semua pasti akan sirna. Entah itu singkat atau lama.
Baca : Membangun Ruhiyah Guru
Tinggal bagaimana kita menjadi penopang saat semangat hampir tumbang. Bagaimana kita kuat, saat diri ini sekarat. Bagaimana ia tangguh, saat semua rintangan seakan penuh. Bagaimana ia tegar, saat jiwa ini terbakar oleh hal-hal yang munkar.

Prihatiningsih, S.Si., Pemimpin Redaksi www.majalahfahma.com

Menikmati Proses Belajar

Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Kenapa ada kopi susu di sana?
Pertama, kopi susu memiliki warna coklat yang manisnya juga semanis coklat.
Kopi jika hanya diseduh maka akan memunculkan rasa pahit, namun jika ditambah susu atau gula akan terasa manis.

Kopi pahitpun bisa dinikmati oleh mereka yang "mampu" merasa, namun tidak mampu dinikmati bagi mereka yang belum terbiasa.

Menjadi manis atau pahit bukanlah esensi dari tujuan minum kopi, tapi bagaimana si peminum mampu menikmati minumannya sesuai selera.

Begitupun dengan kehidupan yang sejatinya adalah waktu untuk terus belajar. Teringat satu lirik dalam nasyid berjudul “Bingkai Kehidupan”,  "Setiap tetes peluh dan darah, tak akan sirna ditelan masa, hidup ini adalah perjuangan tiada masa tuk berpangku tangan." Mengingatkan aku akan sejatinya hidup ini bukanlah tempat untuk berpangku tangan dan bersenang senang, tapi bagaimana kita mampu menjalani hidup dengan senang di atas beban yang menghadang.

Ridha dengan segala ketetapan dan tidak putus asa dalam segala rintangan. Ya, belajar itu memang ritme yang tidak mudah, ada yang tahu potensi dan bakatnya, ada pula yang merasa "salah jurusan", semua itu adalah jalan untuk kita mengerti arti kehidupan.

Mengorek kembali potensi dan bakat terpendam, mencoba menikmati setiap proses yang terjadi, menjadi diri sendiri tanpa takut dibenci, mencari Ridha Illahi demi dunia yang kekal abadi sembari sesekali menoleh untuk menegakkan kembali prinsip hidup yang dipegangi.

Jadi, nikmatilah belajarmu dalam hal apapun.

Penulis : Prihatiningsih, S.Si., Pendidik dan Pegiat Media Sosial

Membersamai dalam Belajar

Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Betapa diri ini merasa malu, betapa aku merasa menyesal, betapa aku merasa terlambat. Namun, itu semua kembali berbalik saat aku melihat semangat kalian, mengahafal kata demi kata, ayat demi ayat, surat demi surat, juz demi juz  yang akhirnya aku pun kalah dengan kalian.

Nak, ketahuilah, segala lelah kalian, aku tau, segala payah kalian aku lihat, sampai saat ini, sampai detik ini, masih sangat terasa saat menegur kalian, ada yang sampai menangis, kadang aku belajar lagi bagaimana seharusnya aku bersikap.

Waktu kian berlalu sayang. Kini, aku merasa "kalah" dari kalian, aku merasa kalian begitu menarik semangatku kembali. Kalian begitu memompa ghirah ini lagi.

Membersamai kalian belajar, bukan berarti aku lebih pandai dari kalian. Bukan nak. Bukan. Bahkan aku masih belajar sampai saat ini, aku masih terus mencoba memperbaiki itu.

Membersamai kalian belajar, begitu terasa dari awal ا ب ت hingga kini sudah menyelesaikan jilid 6 plus hafalan yang, maasyaAllah.

Saat aku di usia kalian, apa yang aku kerjakan? Bermain, menangis, mengompol, marah marah sama ibu, nakalin teman, sekolah sekedarnya, bahkan nilaipun standar-standar saja


Membersamai kalian belajar, adalah waktu yang tepat untuk aku belajar ke dua kalinya.

Jazakumullah khairan shalih-shalihahku yang sudah membuat diri ini tersadar, bahwa usia bukan menjadi dispensasi kita untuk terus dan terus belajar.

Prihatiningsih, S.Si., Redaktur Majalah Fahma Online

Hijrah KarenaNya atau Karena Dia



Noted : Prihatiningsih, S.Si.

Kamis, 26 September 2019, bertempat di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia Yogyakarta telah berlangsung sebuah kajian kerren penuh barakah dengan tema ‘Hijrah KarenaNya atau dia” yang disampaikan oleh Ustadz Subhan Bawazier.

Berikut catatan reporter Majalah Fahma, Mbak Atin yang merangkum dalam catatan berkahnya :

Niatkan keluar rumah untuk Allah, menuntut Ilmu, kerja untuk mencari berkah, dan kebaikan kebaikan lain.

Hijrah : Bukan hanya sekedar story.... "Innamal a'malu binniat.... (dst)". Rasul kabarkan bahwa konsekuensi dakwah adalah membuat orang hijrah, perpindahan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, kegiatan yang satu ke kegiatan yang lain (kebaikan),

Berkata dan beramal mengedepankan ilmu. Al 'ilmu qoblal amal , berilmu dahulu sebelum beramal (mengamalkan ilmu).

Hidayah bukan kita yang mendatangkan, tapi Allah yang memberikan. Entah itu orang yang menjemput atau Allah yang langsung ngasih. Hidayah datang karena kesungguhannya pada Allah. Janga bikin orang lari dari Dakwah/Hidayah/Islam.

Naah, kerreen kaaan….
Yuuuk, masih banyak lagi niih, petuahnya …

Dalam ucapan ada "sihir", maka ucapkan yang baik-baik agar yang datang juga baik.

Mendengar kajian dari medsos itu baik, tapi lebih baik duduk di majlis. Karena Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang ada dalam majelis ilmu. Banyak sekali keutamaannya.
Baca : Semua Karena Allah
Mus'ab bin umair (ciri khas sahabat ini  wangi parfumnya tercium hinggal 1 km sebelum beliau muncul), yang di utus dakwah oleh Rasulullah sebelum Hijrah. Beliau mendakwahi petinggi Quraisy yang bernama Sa'ad bin Muadz.

Agama itu tidak merubah, tapi mewarnai, jadi yang kuliah ya tetap kuliah sambil dakwah. Dokter juga tetap pakai jas lab, tapi sambil dakwah, begitupun dengan yang lain. Islam tidak menyulitkan, tapi menyempurnakan.

Orang mampu "sami'na wa atho'na" jika dia memiliki ilmu. Dan setiap orang itu tergantung pada niatnya.

Jika kita memilih lingkungan yang baik, dekat dengan sunnah, Ilmu, dan memperbaiki Hijrah kita, maka Allah akan mudahkan dan setiap pensucian jiwa itu perlu muqodimah dan taskiyah yang berkelanjutan.

Dalam rangka melancarkan Hijrah, perlu 5 tahapan : 
Pertama : Membuat hubungan dengan Allah (Al Musyarothoh) : Banyak orang yang shalat, tapi dia tak mengenal Allah. Dia Hanya shalat, menggugurkan kewajiban, tidak berbekas. Na'udzubillah. 

Ilmu adalah cahaya Allah, dan cahaya Allah tidak akan datang pada orang yang ahli maksiat. Orang bisa terhalang rezekinya, karena maksiat. Allah ciptakan akhlaq pada diri manusia, tandanya adalah jika dia berdosa, akan ringan untuk bertaubah dan tak mengulangi dosa nya lagi. bikin dosa, khayal syurga.

Kedua : Muroqobah (selalu mendekatkan diri kepada Allah). Hidupmu untuk ibadah karena Allah, kuncinya : niat, ikhlas, jujur, cinta, ilmu, dam bersungguh-sungguh.

Ketiga : Karakter penghuni syurga  : Qorimin : Makin dekat dengan orang (makin supel), makin baik dengan orang, sahlin (mudah), hayyin (lembut/rendah hati), Maukah kalian meminta orang-orang yang tidak akan disentuh api neraka atau orang yang tidak akan masuk neraka, mereka adalah setiap orang yang memiliki sifat hayyin, layyin, qaribin, sahlin.” (HR. At-Tirmidzi)

Keempat : Taslim (mengikuti ajaran Rasul, dengan sadar dan alasan yang kuat, ilmu dan amal yang shahih)

Kelima : Ridho

Sabar itu menyempurnakan shalat, bukan shalat yang bikin sabar.

Berbakti pada orangtua itu baik, tapi berhijrah itu lebih baik, maka dahulukan hijrah, jika orangtua belum setuju, pelan-pelan sambil memahamkan kepada orangtua. Ajak dialog mereka dengan baik-baik.

Iman naik karena ketaatan dan iman turun karena kemaksiatan. Caranya stabilkan ketaatan dengan kebaikan kebaikan kecil yang rutim. Misalnya : baguskan shalat, sedekah, shalat dhuha, ibadah sunnah, jaga lisan, dll.

Ada orang yang ahli maksiat, tapi dapat hidayah. Kenapa? Karena mungkin banyak orang yang mendoakan nya, jadi jangan menilai orang dari luarnya dan jangan menganggap orang buruk, karena bisa jadi karena prasangkamu itu, kamu menjadi lebih buruk dari dia... na'udzubillah.

Wallahu a’lam bishawab

foto republika

Rumah Belajar Kemendikbud, Solusi Belajar Tanpa Berbayar



Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Rumah Belajar Kemendikbud (https://belajar.kemdikbud.go.id) berisi konten bahan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik PAUD, SD, hingga SMA/SMK. Dengan jargon: Belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Terdapat delapan konten, yaitu Sumber Belajar, Buku Sekolah Elektronik, Bank Soal, Laboratorium Maya, Peta Budaya, Wahana Jelajah Angkasa, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, dan Kelas Maya. Pada Fitur Pendukung terdapat tiga konten, yaitu Karya Guru, Karya Komunitas, serta Karya Bahasa dan Sastra serta materi pendukung lainnya.

Rumah Belajar juga memberikan layanan sumber media pembelajaran dalam bentuk bahan belajar interaktif yang dilengkapi gambar, animasi, video dan simulasi dan buku digital.

Ada juga Bank Soal yang berisi kumpulan soal-soal latihan/tes, Karya Guru dan Karya Komunitas, memberi kesempatan pendidik mengunggah karya terbaiknya.

Ada juga Fitur Kelas Maya, memberi layanan menyelenggarakan kegiatan e-learning atau pembelajaran secara daring (online) kapan saja dan di mana saja.

Adapun Laboratorium Maya dapat digunakan peserta didik dan pendidik melakukan percobaan di laboratorium secara virtual (maya). Semua percobaan atau simulasi yang tersedia di Laboratorium Maya dapat diunduh oleh pengguna dengan melakukan login terlebih dahulu. Di fitur ini terdapat konten untuk mata pelajaran IPA dan matematika dengan kategori SMP dan SMA.

Rumah Belajar telah banyak dimanfaatkan oleh pendidik sebagai sumber media pembelajaran. Bisa digunakan secara offline, caranya mengunduh materi terlebih dulu melalui smartphone/laptop.

Dalam memanfaatkan Rumah Belajar pengguna akan di dampingi oleh Duta Rumah Belajar. Mereka merupakan perpanjangan tangan dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud, dalam melakukan Sosialisasi pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), khususnya pemanfaatan Rumah Belajar.

Sumber : Majalah JENDELA kemendikbud.

Prihatiningsih, S.Si., Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta

VPN, Solusi Mudah atasi Gangguan Internet



Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

VPN merupakan singkatan dari Virtual Private NetworkVPN adalah sebuah koneksi yang memungkinkan pengguna internet mendapatkan pengalaman lebih aman, terhindar dari pengintaian, lebih bebas dalam melakukan aktifitas di Internet seperti Browsing ataupun mendownload sebuah data. Selain itu VPN juga ditujukan sebagai metode koneksi yang digunakan untuk menambahkan keamanan dan privasi ke jaringan pribadi dan publik, seperti Hotspot WiFi dan Internet.

VPN paling sering digunakan oleh perusahaan untuk melindungi data sensitif. Namun, menggunakan VPN pribadi semakin menjadi lebih populer karena lebih banyak manfaat yang didapatkan. Privasi ditingkatkan dengan VPN karena alamat IP awal pengguna diganti dengan satu dari penyedia VPN. Pengguna dapat memperoleh alamat IP dari server yang disediakan oleh layanan VPN. Misalkan Anda menggunakan Alamat IP internet di Semarang maka dapat menggunakan VPN untuk menyembunyikan data anda dengan mengubah informasi menggunakan alamat IP sesuai yang disediakan oleh Provider VPN semisal di Singapura, Malaysia bahkan Eropa dan Amerika.

Cara Setting VPN di Android:
Kebanyakan aplikasi VPN di smartphone ataupun di PC memberikan kemudahan bagi pengguna dengan cara “One Click Connect” hanya tinggal memilih Server dan menekan tombol Connect maka pengguna langsung bisa menikmati VPN. Tetapi tidak jarang juga beberapa aplikasi yang hanya memberikan pengaturan sebuah jembatan untuk pengguna menggunakan VPN yang didapat dari situs penyedia VPN contohnya seperti OpenVPN.

Berikut ini contoh cara menggunakan VPN di android dengan mudah dan praktis :
1.    Download Aplikasi Turbo VPN di Play Store
2.    Instal Aplikasi tersebut
3.    Setelah Installasi sukses maka Buka aplikasi tersebut
4.    Pilih server yang di inginkan, anda juga bisa memilih Automatic yang mana server dipilihkan secara otomatis
5.    Pilih “Connect”

Dengan begitu Smartphone anda sekarang sudah terhubung dengan VPN dan siap digunakan.

Prihatiningsih, S.Si., Pegiat Media Sosial

Membangun Ruhiyah Guru



Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Pada edisi yang lalu telah dijabarkan mengenai metode pembelajaran, kini saatnya kita membahas mengenai ruh/jiwa guru sebagai pendidik, yang memang harus dimiliki oleh setiap guru yang menanamkan ilmu dan adab kepada siswanya. Perlu diperhatikan bahwa guru bukan “tukang ngajar”, begitu istilah Dr. Adian Husaini. Tugas guru bukan tugas tukang. Tukang hanya menyelesaikan pekerjaan fisik. Ketika pekerjaan fisik telah selesai, tukang tidak bertanggung jawab terhadap ruh pekerjaan setelahnya, sebab yang tukang kerjakan memang berkaitan dengan benda mati yang tidak akan berubah, sedangkan murid tidak demikian. Murid adalah manusia yang memiliki fisik dan jiwa yang mampu berubah sesuai pola ajar dan pola pikirnya. Guru tidak hanya bertanggung jawab berbagi ilmu kepada murid tetapi juga bertanggung jawab memperbaiki akhlak dan jiwa murid. Di sinilah peran guru sebagai penanam adab.
Baca : Metode Pembelajaran
Sebagai agen penanam adab, guru perlu lebih dulu berbenah daripada murid. Guru juga harus lebih giat belajar dibandingkan muridnya. Selalu memperbanyak pengetahuan dengan berbagai cara, entah dengan membaca, melihat, atau mengikuti kajian. Sebuah mahfuzhat berbunyi, “Ath thariqah ahamu minal madah, wal ustaadzu ahammu min ath-thariqah, wa ruuhul ustadz ahammu min al ustadz. (metode pelajaran lebih penting dari pelajaran, guru lebih penting dari metode, dan ruh guru lebih penting dari guru itu sendiri)”.

Ungkapan ini menunjukkan, perbaikan dunia pendidikan secara keseluruhan harus dimulai dari perbaikan jiwa guru. Jiwa atau ruh gurulah yang perlu lebih dahulu dibenahi sebelum gedung-gedung, buku-buku pelajaran, dan berbagai strategi pendidikan dan pembelajaran. Gedung, buku, dan strategi pembelajaran penting, tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah jiwa guru sebab guru merupakan ujung tombak pendidikan sedang guru itu sendiri sangat bergantung kepada jiwanya.Ruh seorang guru adalah keikhlasan, tidak ikhlas berarti tidak ada ruhnya dalam suatu amalan. Karena, ikhlas merupakan ruh dan syarat diterimanya amal seorang guru. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat (menilai) bentuk tubuh serta kemolekan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan yang bersemayam dalam lubuk hatimu." (HR Bukhari dan Muslim).

Jika seorang guru memiliki pondasi akhlak, adab, dan ilmu yang baik, maka dapat dipastikan bahwa ia akan menanamkan ilmu sesuai pola pikir dan pola sikap yang diadopsinya. Sedangkan jika guru tak memiliki akhlak, adab, dan ilmu yang baik maka bagaimana dia mampu mengajarkan jika dia tidak melakukan. 3 hal tersebut merupakan indikator keikhlasan seorang guru. Jika ia dipuji, tidak sombong, direndahkan tidak tumbang. Karena ia senantiasa melakukan transfer ilmu dengan mengutamakan ridha Allah, bukan semata penilaian dari manusia.

Guru bukan hanya mengajarkan, tetapi juga mencontohkan. Pendidikan yang baik akan berlangsung jika seluruh elemen pendidikannya baik. Seperti pepatah jawa yang mengatakan “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” yang artinya didepan memberi contoh, ditengah memberi semangat, dibelakang memberi daya kekuatan. Dari pepatah ini juga memiliki makna yang sangat dalam. Disamping guru harus mampu menjadi contoh, ia juga harus mampu memberi dorongan, motivasi, dan kekuatan kepada siswanya untuk melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, seorang guru juga harus senantiasa mengupgrade diri dan ilmunya agar mampu memberikan yang terbaik bagi anak didiknya sesuai dengan perkembangan ilmu dan zaman yang berlaku pada saat itu.

Pola pikir seorang guru juga sangat mempengaruhi perilakunya sehari-hari. Pola pikir cenderung akan terpancar sebagai perilaku spontan yang disebut dengan akhlak. Pancaran akhlak inilah yang menjadikan parameter baik atau buruknya kualitas ruhiyah guru. Kualitas guru akan mempengaruhi kualitas anak didiknya, serta kualitas anak didik akan terpancar pada pola sikap anak sehari-hari. Indikator keberhasilan akan nampak pada baik buruknya perilaku anak didik baik saat ada guru maupun tak ada guru. Baik di kala berjamaah ataupun sendiri. Di lingkungan sekolah maupun saat sudah di rumah.

Penulis : Prihatiningsih, S.Si., Guru SDIT Hidayatullah Sleman

Hubungan Alquran dan Ketakwaan


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al Quran dan kitab lainnya. Allah menetapkan syariat puasa dalam Q.S Al Baqarah ayat 185. Orang yang berpuasa belum tentu menjadi orang yang bertaqwa. Allah menyebut orang yang bertaqwa menjadi orang yang memperoleh kemenangan (terdapat dalam surat An-naba). Balasan bagi para pemenang adalah surga. Allah memberikan malam yang lebih baik dari 1000 bulan yaitu malam Lailatul Qadar.

Al Quran diturunkan di 2 kota yaitu Kota Mekah dan Kota Madinah. Kedua kota itu sampai sekarang menjadi kota yang diberkahi oleh Allah. Al Quran diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahualaihi Wasallam yang menjadi sebaik-baik ciptaan Allah dan diutus untuk semua manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai peringatan.

Salah satu keistimewaan Al Quran adalah rumah yang dibacakan Al Quran setiap hari memiliki perumpamaan seperti manusia melihat bintang di langit yang sinarnya membawa kesejukan dan nampak terang walau dilihat dari kejauhan. Sebaliknya, rumah yang tidak pernah dibacakan Al quran seperti perumpamaan kuburan yang sepi, gelap, dan mencekam.

Al Quran, perintah puasa dan hubungan dengan ketakwaan memang tidak dapat dipisahkan. Agar orang yang berpuasa menjadi orang yang bertakwa, maka kita perlu memahami, Apa itu takwa?

Ada 3 makna takwa dalan Al-Quran :
Takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah. Hal ini seperti kalam-Nya yang artinya, Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa. (Al-Baqarah: 41)
Bermakna taat dan beribadah, sebagaimana kalamnya yang berarti, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah denan sebenar-benar takwa. (Ali-Imran: 102)

Dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Maka inilah hakikat dari makna takwa, selain pertama dan kedua. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya; Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa, maka itulah orang-orang yang beruntung. (An-Nur: 52)

Ciri orang yang bertakwa :
1. Menjadikan Al quran sebagai petunjuk. Allah akan memuliakan apapun dengan Al quran. Rugi orang yang bertemu dengan ramadhan jika tidak mendapat apa-apa.

2. Mereka orang yang beriman kepada yang ghaib.

3. Mereka yang mendirikan shalat. Shalat adalah ibadah yang paling penting, amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat nanti. Apabila shalatnya baik maka baik semua amalnya, shalatnya tidak baik maka tidak baik pula amalannya. Ulama mengumpamakan Shalat itu seperti bejana dan ibadah yang lain adalah airnya.

4. Dermawan. Sebaik baik sedekah adalah di bulan ramadhan. Tidak ada sejarahnya orang yang sedekah itu menjadi miskin.

5. Orang Yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad dan sebelumnya.

6. Orang yang bersedekah diwaktu lapang dan sempit.

7 Orang yang paling kuat menahan amarah.

8. Orang yang mampu memaafkan orang lain.

9. Ketika melakukan Hal yang keji maka langsung mengingat Allah. Dan berhenti melakukan dosanya. (Bertaubat kepada Allah. Berpuasa ramadhan dengan iman maka akan diampuni dosa yang terdahulu).

Prihatiningsih, S.Si., Pendidik Al Quran

Sampaikanlah Walau Satu Ayat


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Ketika kita mempunyai tujuan dalam hidup, maka kita harus selalu berada dalam garis yang telah ditetapkan Allah agar kita sampai kepada tujuan utama hidup (read: ridha Allah) 

Salah satu cara yng bisa kita lakukan untuk meraih ridha Allah yaitu dengan tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNYA, hal yang paling simpel yang bisa kita lakukan misalnya: menutup aurat, menjaga sholat, berbuat baik, menjauhi larangan-larangan Allah, selain itu kita juga wajib memperjuangkan kekaffahan Islam, salah satunya dengan cara berdakwah. 

Dakwah bukan hanya untuk mereka yang sangat faham dengan berbagai ilmu dan hadist, tapi juga bagi kita yang fahamnya sedikit tapi berani menyampaikan kebenaran dengan lantang.. Ya, tidak perlu menjadi ustadzah dan bersertifikat agar bisa menyampaikan Islam, tapi bebas, asalkan ilmu yang kita tahu adalah benar, shohih, dan berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah, maka "sampaikanlah walaupun satu ayat".

Semoga tetap berada dalam naungan Islam dan tak pernah lelah dalam berdakwah dan memperjuangkan Islam secara sempurna.