Showing posts with label Irwan NK. Show all posts
Showing posts with label Irwan NK. Show all posts

Akhlak Mulia Pemimpin

Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Karena kepemimpinan dalam Islam bertujuan menegakkan agama (iqamatudin) dan menata dunia (kehidupan dunia beserta semua permasalahnnya) dengan landasan agama (hukum/ketentuan yang diturunkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya), maka pastikan segala urusan, perkara, kepercayaan, dan rahasia umat Islam diberikan kepada pemimpin yang berakhlak mulia selain memiliki aqidah tauhid yang kuat sebagaimana dituliskan di edisi sebelumnya. Akhlak mulia memungkinkan pemimpin Muslim menyebarkan keadilan dan menghapus kezaliman, mempersatukan dan tidak memecah belas karena akhlak mulia menciptakan kesepahaman dan kasih sayang di antara sesama manusia, “Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi, kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak mulia.” (HR Abu Ya’la dan Al-Bazzar).

Akhlak mulia merupakan unsur kepemimpinan Islam yang dapat menumbuhkan kebaikan, meningkatkan kualitas suatu kebaikan. Sebaliknya akhlak buruk pemimpin akan mendatangkan celaan dan keburukan, “Akhlak mulia adalah pertumbuhan, sedangkan akhlak buruk adalah terputusnya kebaikan. Kebajikan adalah bertambahnya umur, dan sedekah bisa mencegah terjadinya kematian yang buruk.” (HR Ahmad dan Abu Dawud). Perbuatan baik dan amal sholih akan menjadikan pemimpin muslim berumur panjang, dapat menjauhkannya dari kematian dalam keadaan buruk dan mengenaskan. Pemimpin berakhlak mulia tidak tertarik untuk membalas dendam dan tidak bisa dikuasai oleh bisikan setan, nafsu, atau amarah, dan apabila yang bersangkutan terpaksa ‘menyakiti’ orang lain, sikapnya jauh dari yang namanya caci maki dan pembalasan. Akhlak mulia membuat seorang pemimpin mampu menahan cobaan,  menahan amarah, menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain, menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan hina, perkataan dan perbuatan yang buruk, dan menghalanginya dari perbuatan keji dan mungkar, dusta, menggunjing, dan mengadu domba.

Akhlak mulia menuntut pemimpin muslim memperlakukan orang lain dengan baik (HR At- Tirmidzi), memperlakukan semua orang dengan sama, membalas jerih payah yang mereka lakukan sesuai ukurannya, memberikan pekerjaan dan jabatan kepada siapa pun yang berhak, dan tidak membedak-bedakan di antara mereka karena mengikuti keinginan dan kepentingan pribadi ataupun faktor-faktor yang melanggar syariat lainnya. Menunaikan hak rakyat dengan menjamin kebebasan dan pekerjaan agar tidak ada orang lemah yang terabaikan, orang tak berdaya yang dibiarkan, orang fakir yang menderita kemiskinan, dan orang takut yang terancam—termasuk melerai permusuhan dan pertikaian di antara sesama Muslim, memberikan hak kepada pihak yang berhak, menjaga hak-hak kaum kafir dzimmi. Tidak melibatkan status sosial dan nasab dalam kepatuhan terhadap hukum sesuai tuntutan keadilan, karena syariat Islam berlaku bagi siapa pun juga, tanpa membedakan antara orang yang terhormat ataupun rakyat jelata, penguasa ataupun rakyat, “Sungguh, yang membinasakan umat sebelum kalian adalah apabila orang terhormat mencuri, mereka membiarkannya dan apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman kepadanya. Demi Allah, andaikan Fatimah binti Muhammad mencuri, tentu aku potong tangannya.” (HR Bukhari, Abu Dawud).

Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam adalah manusia paling mengetahui, paling besar tanggungjawabnya, paling jujur ucapannya, paling dermawan, paling murah hati, paling bersabar, paling besar pemberian maaf, dan ampunannya serta kasih sayangnya, paling besar manfaatnya untuk hamba pada agama dan dunia mereka, paling rendah hati, paling mengutamakan kepentingan orang lain daripada untuk dirinya sendiri, paling luruh terhadap yang diperintahkan, paling bersegera dalam kebaikan dan meninggalkan larangan, terkumpul keindahan  batin dan keindahan zhahir.

Akhlak mulia yang murni dalam jiwa pemimpin memastikan yang bersangkutan tidak akan menyelisihinya pada seluruh kondisi karena akhlak mulia bukanlah kemeja yang ia kenakan apabila ia menghendakinya dan melepaskannya apabila ia menghendaki, tetapi hal tersebut senantiasa ada padanya seperti keharusan cahaya pada matahari. Karena itu merupakan bentuk penghambaan, pemiliknya akan berputar bersama kebenaran kemana pun ia berputar, dan akan tetap stabil bersamanya pada setiap keadaan.

Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pemimpin Redaksi Majalah Fahma, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Check-Up Akidah Pemimpin Anda!



Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan, M. Psi

Karena seorang pemimpin berkewajiban menegakkan agama-Nya (iqamatudin; Ad-Dumaiji [2017]; At-Tuwaijiri [2015] menjelaskan lebih detail yang dimaksudkan iqamatudin sebagai menjaganya, mendakwahkannya, menolak syubhat darinya, menegakkan hukum dan hudud dengan cara menetapkan hukum di antara manusia berdasarkan hukum Allah Ta’ala, dan berjihad di jalan-Nya), dan kepemimpinan yang demikian hanya dapat dicapai dengan keimanan dan amal shaleh (baca QS An-Nu:55), maka pastikan umat Islam tidak menyerahkan segala urusan, perkara, kepercayaan, dan rahasianya kepada orang kafir-munafik-musyrik yang tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagi umat Islam, menyukai apa yang menyusahkan umat Islam, dan telah nyata-nyata kebencian yang besar dari hati dan keluar dari mulutnya (baca QS Ali Imran:118), dan bersedih hati jika umat Islam memperoleh kebaikan (baca QS Ali Imran: 120).

Tidak memilih orang-orang kafir-munafik-musyrik sebagai pemimpin (baca QS An-Nisaa’:144), yang menjadikan agama Islam beserta ajarannya yang diimani oleh umat Islam sebagai buah ejekan dan permainan (baca QS Al-Maidah: 57-58). Mereka akan senantiasa mempergunakan setiap kesempatan untuk melemahkan jiwa keimanan dan keislaman yang dimiliki orang yang beriman, berusaha untuk menyelinap masuk dalamnya. Meninggalkan perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya, lengah mensyukuri pemberian-Nya dan mencegah memberikan anugerah-Nya dengan kebencian. Mereka memahami dunia sebagai sarana menuju syahwatnya, meskipun dengan cara mendurhakai Tuhan langit dan bumi atau sebagai sarana merealisasikan harapannya untuk mencapai kedudukan dan kenikmatan—suatu kenikmatan yang terkotori dengan kepalsuan, terjerumus kepada perangkap dunia sejak pandangan pertama.

Pastikan segala urusan, perkara, kepercayaan, dan rahasia umat Islam diberikan kepada pemimpin yang beriman  karena pemimpin yang beriman akan senantiasa terhubung dengan akhirat selamanya dan segala kegiatan kepemimpinannya yang ada di dunia ini digerakan dalam rangka mengingat akhirat—siapa pun yang menyibukkan diri dengan sesuatu, maka ia akan memahami kesibukannya: ketika masuk ke sebuah rumah yang makmur, tukang kayu akan melihat ke atap, ahli bangunan akan melihat ke tembok, dan ahli tenun akan melihat tenunan baju. Pemimpin yang beriman jika melihat kegelapan akan teringat kuburan, jika melihat sesuatu yang menyakitkan akan teringat hukuman-Nya, dan jika mendengar suara yang memekik teringat tiupan sangsakala. Jika melihat orang yang tidur teringat kematian dalam kuburannya dan jika melihat kenikmatan  teringat surga. Cara pemahamannya senantiasa berkaitan dengan apa yang sempurna menurut-Nya, dan itulah yang menyibukkan dirinya terhindar dari segala kemaksiatan kepada-Nya.

Termasuk di antara bagian dari akidah Islamiyah adalah setiap muslim mencintai dan mengangkat pemimpin (memberikan kesetiaan) kepada sesama muslim, mencintai para ahli tauhid, orang-orang yang berbuat ikhlas dan menjadikan mereka sebagai pemimpin, membenci dan memusuhi musuh-Nya dan rasul-Nya. Orang-orang mukmin adalah saudara dalam agama dan akidah, walaupun periode hidupnya mungkin jauh. Orang-orang mukmin sejak awal khalifah sampai akhir zaman, walaupun mereka saling berjauhan tempatnya dan berbeda zamannya, adalah tetap saudara yang saling mencintai, saling mendoakan, dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala.

Beruntunglah umat Islam dipimpin oleh pemimpin yang senantiasa berpegang teguh kepada ketakwaan kepada Allah Ta’ala, membiasakan amal saleh, mengubah amal-amal buruk dengan kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan melaksanakan yang makruf, tidak menjual kebahagiaan akhirat dengan kebahagiaan dunia, dan senantiasa mengingat firman-Nya, ‘Supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah, sedangkan aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah’ (QS Az-Zumar:56). Pemimpin yang senantiasa memperjuangkan agama Allah, bersungguh-sungguh dalam jalan Allah Ta’ala, mencintai Allah Ta’ala, rasul-Nya, dan seluruh kaum mukminin, memerangi kekafiran-kaum kafir, kemunafikan-kaum munafik, kefasikan-kaum fasik, dan kemusyrikan-kaum musyrik.||

Penulis: Irwan Nuryana Kurniawan, M. Psi., Pimpinan Redaksi Fahma, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia 
Foto   : Google

Orang yang Paling Cerdas




Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. 



Suatu ketika, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya seorang lelaki Anshar, “Wahai Nabiyullah, siapakah orang yang paling cerdas itu?” Rasul menjawab, “Ia adalah orang yang paling banyak mengingat mati, dan paling banyak mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Merekalah orang-orang yang bijak. Mereka adalah orang-orang yang membawa kemegahan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR Ath-Thabrani). Mempersiapkan diri menghadapi hari kepergian dari dunia—Syaikh Muhammad Abdul Athi Buhairi (2012) mendeskripsikan hari kepergian sebagai hari ketika seorang hamba tidur di atas papan pemandian; pada saat itu lidahmu akan berkata, “Di manakah suara lantangmu, apa yang membisukanmu? Di manakah aroma wangimu, apa yang membusukkanmu? Di manakah pendengaranmu, apa yang menjadikanmu tuli?—disebut Ali bin Ali Thalib radhiyallahu’anhu sebagai satu dari empat ciri utama dalam definisi orang yang bertakwa, selain takut kepada Dzat Yang Maha Perkasa, mengerjakan apa yang diturunkan, dan puas dengan rezeki yang sedikit.

Muslim yang cerdas jika disebut kematian, ia mengambilnya sebagai nasihat dan pelajaran berharga dari kematian, menjadikannya sebagai pendorong untuk tobat dan beramal sholih, menyesali atas segala dosa yang telah dilakukan di masa lalu dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Muslim yang cerdas tidak pernah lupa mengingat mati sedikit pun, selalu melihat kematian di hadapan mereka,  dan selalu siap untuk mati kapan saja datangnya. Muslim yang cerdas mengetahui hakikat hidup di dunia dan hakikat hidup di akhirat—lebih banyak rindu pada kehidupan akhirat, menunggu kematian dengan hati membara.

Jika hidup sampai sore, muslim yang cerdas bersyukur kepada Allah Ta’ala atas ketaatan yang dilakukannya dan bergembira karena tidak menyia-nyiakan waktu siangnya—bahkan menggunakannya sebaik-baiknya dan menyimpannya sebagai tabungan amal bagi dirinya. Begitu juga ketika pagi tiba, muslim yang cerdas bersyukur atas ibadahnya tadi malam. Jika tetap hidup, ia juga senang karena akan terus menambah bekal dan baginya kehidupan adalah tambahnya bekal. Jika mati, muslim yang cerdas akan sangat bahagia dan merasa beruntung karena kematian adalah saat dia bertemu dengan kekasih sejatinya, Allah Ta’ala. Sebagaimana diriwayatkan oleh Hudzaifah ketika didatangi kematian, “Kekasih datang atas kekurangan di mana aku tidak selamat dari penyesalan. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kekayaan, sakit lebih aku sukai dari sehat, dan mati lebih aku suakai dari hidup, maka mudahkanlah kematianku sehingga aku bertemu dengan-Mu.”

Muslim yang cerdas memakmurkan akhiratnya dengan memperbanyak shalat, puasa, qiyamul lail, jihad, menyibukkan diri ibadah, mengorbankan hartanya untuk memperjuangkan  dan menyebarkan Islam. Muslim yang cerdas tidak gentar menghadapi kematian dan tidak pernah lari dari medan peran—bahkan sangat merindukan kematian agar segera bertemu dengan saudara-saudaranya yang telah terlebih dahulu masuk surga. Bilal bin Rabah adalah salah satu contoh nyata dari personifikasi muslim yang sangat merindukan kematian. Ketika merasakan sakitnya sakaratul maut dan pingsan, kemudian istrinya menangis dan berkata, “Oh, alangkah sedihnya! Oh, alangkah susahnya!”, setelah siuman dari sekarat, Bilal berkata, “Katakanlah, ‘O, alangkah rindunya! O, alangkah bahagianya. Besok bertemu Muhammad dan sahabatnya.”

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita memperbanyak kematian. “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian. Karena itu akan menghadapkan pada amal taat dan mencegah dari maksiat!” Ziarah kubur, menjenguk orang sakit, memandikan jenazah, menshalati jenazah, bertakziyah kepada orang mati, mengingat kematian dan keadaan orag mati, pendek angan-angan dan berpikir akan datangnya kematian yang tiba-tiba, menurut Abdul Qadir Abu Faris (2006) sebagai perkara yang dapat mengingatkan kita kepada kematian, melunakkan hati, menumbuhkan dalam jiwa manusia rasa takut kepada Allah Ta’ala dan azab-Nya, juga rasa ‘raja kepada Allah Ta’ala dan nikmat-Nya. Bersiap diri untuk hidup di alam barzakh setelah mati dan hidup di kampung akhirat, usaha manusia menyelamatkan diri dari neraka dan selamat masuk surga, ini semua merupakan jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sebagai penutup, Salman Al-Farisi berkata, “Ada tidak orang yang membuatku takjub sampai membuatku tertawa: Orang yang berharap dunia padahal kematian memburunya, orang yang lalai padahal kematian tidak melalaikannya, dan orang yang tertawa memenuhi mulutnya padahal ia tidak tahu apa Tuhan murka atau ridho kepadanya.”||

Penulis    : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pimpinan Redaksi Majalah Fahma , Dosen                                  Psikologi Universitas Islam Indonesia
Foto         : Google



Allah Tahu Yang Ada Dalam Hatimu!



Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. 

Nak, muraqabah itu merasa diawasi Allah, kamu tahu sekaligus yakin terus menerus bahwa bahwa Allah Ta’ala melihat apa-apa yang nampak dan apa-apa yang tidak nampak pada dirimu, bahwa Allah Ta’ala itu mengawasimu, melihatmu, mendengar ucapanmu, mengetahui apas semua amalan yang kamu dilakukan di setiap waktu, di setiap kesempatan di setiap individu, dan di setiap kedipan matamu. Dalam hadits shahih tentang ihsan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda, “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, bila engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu” (HRBukhari dan Muslim).

Nak, mengutamakan apa-apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla, mengagungkan apa-apa yang diagungkan oleh-Nya, memandang kecil apa-apa yang dipandang kecil oleh-Nya, itulah sebagian tanda-tanda sikap muraqabah telah ada pada diri seorang hamba—sikap demikian dapat memotivasimu untuk melakukan ketaatan, rasa takut dapat menjauhkanmu dari kemaksiatan, dan muraqabah dapat membimbingmu menuju jalan kebenaran. Belajar konsisten untuk terus merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam perjalanan menuju kepada-Nya. Pengagunganmu kepada Allah Ta’ala dapat memalingkanmu dari pengagungan kepada selain-Nya, dari memandang sesuatu selain-Nya, dan untuk tidak mengisi hatimu dengan selain-Nya. Merasakan kehadiran-Nya akan melahirkan rasa dekat dan cinta kepada-Nya. Senangnya hatimu kepada Allah Ta’ala, kebahagiaan dan merasa tentram dengan-Nya, akan mendorongmu untuk senaniasa berjalan menuju Allah Azza wa Jalla, mengerahkan usahamu untuk mendapatkannya, dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Nak, termasuk bentuk muraqabah yang baik adalah jika engkau mengerjakan sesuatu dengan anggota tubuhmu, maka ingatlah bahwa Allah Ta’ala itu melihatmu. Jika engkau mengatakan sesuatu dengan lisan, maka ingatlah bahwa Allah itu mendengarkan hal itu. Jika engkau diam atau menyembunyikan sesuatu, maka ingatlah pengetahuan dan padangan Allah Ta’ala kepadamu. Segala sesuatu tidak bisa tersembunyi dari-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Quran, dan tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Yunus: 61).”

Nak, janganlah engkau tertipu  dengan berkumpulnya manusia di hadapanmu, karena mereka hanya mengawasi apa-apa yang Nampak darimu, sedangkan Allah Ta’ala  mengawasi apa-apa yang ada dalam hatimu. Ketaatan yang paling istimewa adalah perasaan bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi kita di setiap kesempatan. Nak, engkau harus merasa diawasi oleh Allah, yang mana tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Mengarahkan keinginanmu hanya kepada-Nya, yang senantiasa menepati janji-Nya. Senantiasa menghadirkan rasa ikhlas di setiap keadaan, menghadirkan semua hal yang dapat mendatangkan keridhaan Allah, mengganti apa-apa yang dapat membuat-Nya murka dengan apa-apa yang mendatangkan kecintaan-Nya, menghilangkan kemauan dirimu menuju kemauan-Nya meskipun kemauan-Nya tersebut sangat tinggi bagimu.

Nak, janganlah dirimu berpaling dari syariat dan perintah Allah Ta’ala dengan menggunakan pendapat-pendapat dan logika-logika yang mengandung unsur penghalalan apa-apa yang diharamkan oleh-Nya, dan pengharaman apa-apa yang dihalalkan oleh-Nya. Janganlah dirimu berpaling dari hakikat yang ada dalam syariat, keimanan dengan menggunakan perasaan-perasaan dan pandangan-pandangan batin yang mengandung persyariatan agama atau ajaran tertentu yang tidak pernah diizinkan oleh-Nya, kemudian menganggap salah agama yang disyariatkan oleh-Nya.||



Penulis    : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pimpinan Redaksi Majalah Fahma , Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
Foto         : Google

Sang Pembela dan Pemberi Syafa’at



Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan

Nak, di antara manfaat membaca Al-Quran adalah Al-Quran akan mensyafaati pembacanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Hari Kiamat dan meminta kepada Allah Ta’ala agar meridhai pembacanya. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Al-Quran adalah pemberi syafaat yang dikabulkan syafaatnya dan penunjuk jalan yang bisa dipercaya. Siapa yang menjadikannya sebagai imamnya, maka Al-Quran akan menuntunnya ke surga” (HR Ibnu Hibban, Baihaqi, dan Ath-Thabrani); “Al-Quran didatangkan pada hari Kiamat dan ia berkata, ‘Wahai Tuhan, hiasilah dia (orang yang membaca Al-Quran).’ Lalu dipakaikan padanya mahkota kemuliaan. Lalu Al-Quran berkata, ‘Wahai Tuhan, tambahi dia.’ Lalu dipakaikan padanya hiasan kemuliaan. Lalu Al-Quran berkata, ‘Wahai Tuhan, ridhailah dia.’ Lalu dia diridhai. Lantas dikatakan padanya, “Bacalah dan naiklah sesuai dengan apa yang kamu baca. Setiap satu ayat kamu akan Aku tambahi satu kebaikan.” (HR Imam Tirmidzi); “Dikatakan pada pemilik Al-Quran, ‘Bacalah, naiklah, tartillah sebagaimana kamu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu ada pada akhir ayat yang kau baca.” (HR Abu Dawud dan Imam Tirmidzi).

Nak, membaca Al-Quran itu adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dan termasuk amal takarub kepada Allah Ta’ala yang agung—meskipun bukan yang paling agung. Membacanya di dalam shalat adalah ibadah, dan membacanya di luar shalat juga bernilai ibadah. Mengajarkan Al-Quran adalah ibadah, membacanya juga ibadah. Bahkan orang yang belajar membaca Al-Quran, memahaminya, dan menghafalkannya adalah termasuk seorang ahli ibadah kepada Allah, termasuk golongan manusia yang paling baik. “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dan Tirmidzi).

Nak, pastikan dan upayakan bahwa tujuan dari membaca Al-Quran adalah hanya karena Allah Ta’ala semata, hanya untuk mendapatkan ridha-Nya, mendapatkan pahala, keutamaan membaca Al-Quran dari-Nya, dan menjauhkan diri dari neraka-Nya. Jauhkan dirimu dari niat untuk bersaing, riya, membanggakan diri, mencari sanjungan da pujian dari manusia, dan agar disematkan predikat yang luhur padamu. Dan jangan sampai tujuannya adalah untuk mendapatkan imbalan harta, mengambil hadiah barang atau uang atas apa yang kamu baca dan hafal dari Al-Quran. “Setiap mencari ilmu untuk pamer pada orang-orang bodoh atau untuk menyaingi ulama atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya, maka sungguh tempatilah tempatnya di neraka.” (HR Imam Tirmidzi).

Nak, karena Allah Ta’ala semata utamakan untuk membaca Al-Quran, mempelajarinya, mengajarkannya, menjaganya, memahaminya, dan mengamalkannya dibandingkan ilmu-ilmu dunia lainnya, dibandingkan masalah-masalah dunia yang menyibukkan manusia dari berbuat kebaikan dan dari perhatian mengulang hafalan Al-Quran—Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk menjaga Al-Quran dan mengulang apa yang telah dihafal jangan sampai lupa, “Jagalah Al-Quran, demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, sungguh ia lebih mudah lepas dari unta dalam ikatannya.” (HR Bukhari). Memiliki waktu setiap harinya untuk membaca Al-Quran—misalnya setelah shalat subuh berjamaah—menghafal, memahami tafsir dan kandungan Al-Quran. Memperdengarkan pada diri kita sendiri ketika kita membaca Al-Quran karena memasukkan makna-maknanya ke dalam pikiran tanpa pengucapan bukanlah membaca Al-Quran, menyertakan jiwa kita ketika membaca Al-Quran—mantap membawa diri diri kita ketika melakukan amal ketaatan dan membaca Al-Quran—dan bersegera mengatasi kekurangan dan kelemahan dalam diri kita.

Nak, karena Allah Ta’ala semata mari kita menjaga untuk selalu membaca Al-Quran setiap harinya dan mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan—kira-kira rata-rata membaca Al-Quran setiap hari satu juz. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda pada Abdullah bin Amru ibnu-Ash r.a., “Bacalah Al-Quran dalam satu bulan.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud). Disunnahkan juga untuk puasa pada hari khatamul Quran kecuali jika bertabrakan dengan hari yang dilarang puasa oleh Syariah. Diriwayatkan dari Abu Dawud dengan sanad shahih bahwa Thalhah bin Mathraf, Hubaib bin Abi Tsabit, dan Al-Musayyab bin Rafi’, mereka adalah para tabi’in dari kota Kuffah, mereka berpuasa pada hari mengkhatamkan Al-Quran.

Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia, Pemimpin Redaksi Majalah Fahma

Nak, dalam Tawadhu, Ada Kebaikan Dunia dan Akhirat!


Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Psi.

Nak, Allah Subhanahu wa Taala  memerintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman untuk tawadhu—tunduk patuh menerima kebenaran dari siapa pun dan dari mana pun sumbernya dan tidak menganggap rendah orang lain (QS Al-Hijr: 88; As-Syuara:215), Allah memerintahkan aku agar tawadhu, agar jangan sampai ada salah seorang yang menyombongkan diri pada orang lain dan jangan sampai ada yang congkak pada orang lain. (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah).

Sebaliknya, Allah Azza wa Jalla sangat membenci orang-orang yang takabur/sombong—tidak boleh ada satu makhluk pun yang berhak menyandang sifat takabur karena Allah Taala berfirman dalam hadits Qudsi, Kemuliaan adalah sarung-Ku, dan sombong adalah jubah-Ku. Siapa yang menyaingiku, maka Aku akan mengazabnya. Allah mengharamkan orang yang takabur/sombong dari mendapatkan nikmat hidayah dan nikmatnya mentadaburi ayat-ayat-Nya (QS Al-Araf:146), dan orang yang takabur/sombong termasuk dalam tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Taala pada hari Kiamat, tidak disucikan oleh Allah Taala, tidak dilihat oleh Allah Taala, dan mendapatkan azab yang pedih (HR Muslim dan An-Nasai).

Siapa yang di dalam hatinya ada satu dzarrah rasa takabur, maka Allah akan memasukan wajahnya ke dalam neraka. (HR Ahmad).

Nak, tawadhu akan membuat pemiliknya mulia dan tinggi derajatnya di mata Allah Azza wa Jalla dan di mata manusia. Allah Taala memuji orang-orang yang tawadhu, Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Maidah:54)

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Allah tidak menambahi seseorang yang memberi maaf kecuali kemuliaan dan seseorang yang tawadhu pasti diangkat oleh Allah (HR Muslim dan At-Tirmidzi)—diangkat kemuliaan dan kehormatannya; Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Qashash:83).

Orang yang tawadhu akan terbebas dari lelahnya persaingan materi dan kompetisi membanggakan diri.
Nak, orang yang tawadhu selalu bisa membaur secara baik dengan orang banyak karena orang tawadhu menganggap mereka adalah teman dan seorang teman biasanya bersikap rendah hati terhadap teman yang lainnya—persinggungan, konflik di antara mereka tidak akan atau jarang terjadi.

Orang yang tawadhu mau mengajak berbicara dengan anak, berbaur dengan mereka, memberi salam kepada mereka, dan bermain bersama-sama mereka.

Orang yang tawadhu tidak keberatan untuk berbaur satu majelis dengan orang-orang fakir miskin, para budak,  dan para pembantu.

Orang yang tawadhu memenuhi permintaan kaum fakir miskin, manusia biasa, serta memberikan bantuan kepada mereka.

Orang yang tawadhu memenuhi undangan siapa saja yang mengundangnya, baik miskin atau kaya, menyertai mereka dalam suka dan duka, bahkan tetap bersemangat memenuhi undangan orang miskin meskipun makanan mereka sedikit dan tidak menggerakan nafsu makan.

Nak, orang yang tawadhu membantu keluarganya, termasuk membantu mengerjakan urusan pekerjaan rumah tangga karena Allah Taala memerintahkan membangun  dan melanggengkan rumah tangga di atas dasar rasa mawaddah, cinta kasih, dan ketenteraman—Tidak akan terjadi kecuali kedua orang suami istri berlapang dada  satu sama lain, tidak boleh ada yang menangnya sendiri.

Orang yang tawadhu menunjukkan kemauan untuk membantu, melayani, dan berbuat baik kepada orang lain tanpa disertai dengan perasaan tidak enak dan mengganjal.

Nak, orang yang tawadhu memakan makanan jika jatuh dan masih mungkin dimakan. Jika ada makanan yang jatuh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak membiarkannya, tetapi mengambilnya dan membersihkannya dengan membuang kotoran seperti debu yang menempel padanya, lantas memakannya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selalu menjilati jari-jarinya tiga kali setelah makan. Jika makanan kalian jatuh, maka buanglah kotorannya dan makanlah, dan jangan meninggalkannya untuk setan.

Penulis: Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Psi.Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia

Salah Pilih Teman, Rugi Dunia Akhirat


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Psi.

Nak, Allah Subhanahu Wa Taala mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam memilih teman-teman sekaligus memberikan kriteria utama dan terbaik dalam memilih teman, karena akibatnya, dampaknya, untung ruginya bukan hanya berpengaruh pada kebaikan kehidupan kita di dunia tetapi kebaikan kehidupan di akhirat.

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Benar dan Maha Menjelaskan Segala Sesuatu Sesuai Hakikat Kebenaran berfirman dalam  Al-Quran Surat Az-Zukhruf [43] ayat 67:
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa."

Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan menghitung segala-galanya, yang zhahir dan yang batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, yang di atas dan yang di bawah, mengetahui apa yang telah berlalu, apa yang sekarang terjadi, apa yang akan terjadi dan apa yang tidak terjadi seandainya terjadi dan bagaimana terjadi, memastikan ketika Kiamat telah datang, maka teman-teman akrab ketika di dunia sebagian mereka menjadi musuh bagi yang lain sehingga putuslah tali persahabatan dan cinta kasih di antara mereka karena persahabatan dibangun di atas kemaksiatan kepada Allah Taala—dalam Tafsir As-Sadi ditegaskan bahwa persahabatan dan saling mencintai di antara mereka di dunia bukan karena Allah Taala, tetapi berteman dalam kekufuran, pendustaan, dan kemaksiatan.

Sebaliknya, tali persahabatan dan cinta kasih yang didasarkan karena Allah Taala, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, menjaga diri dari kesyirikan dan kemaksiatan, dipastikan akan kekal dan tetap bersatu karena cinta mereka abadi dan menyatu dengan keabadian cinta karena Allah Subhanahuwa Taala.

Nak, pentingnya agama sebagai kriteria utama dalam memilih teman juga ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi waSallam,
“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa dia berteman (HR Ahmad, HR At-Tirmidzi, dan HR Abu Dawud)

Nak, kita hendaknya berteman dengan seseorang yang agama dan akhlak kita ridhai, bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara, ilmu, dan adab karena kebiasaan, tingkah laku, sikap, dan gaya hidupnya akan sangat mempengaruhi siapa kita. Teman yang demikian dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia kita. Sebaliknya, sebaiknya menjauhi teman dekat dan teman duduk yang berakhlak jelek karena menimbulkan bahaya yang nyata dan tidak bias dihindari, bagaimana pun kerasnya usaha kita untuk menjaganya.

Berteman akrab dengan orang-orang kafir, orang-orang munafik, pelaku dosa besar, dan orang-orang yang suka melakukan apa yang diharamkan oleh Allah Taala, akan mendatangkan kemudharatan pada agama, dapat merusak agama dan dunia kita.

“Permisalan teman duduk yang shalih dan yang akhlaknya buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bias jadi ia memberimu minyak wangi, atau engkau membeli minyak wangi darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tak sedap darinya.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Jadi, agar tidak menyesal di dunia sampai di akhirat, mari kita berhati-hati ya Nak dalam memilih teman-teman akrab kita. Mari jadikan apa pun yang lebih disukai oleh Allah Taala dan Rasul-Nya lebih kita utamakan dalam mengambil keputusan memilih atau tidak memilih seseorang menjadi teman akrab kita. Memilih karena Allah Taala dan tidak memilih karena Allah Taala semata.

 “ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran sesudah Al Quran itu dating kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)||

Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Psi., Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia

Bagaimana Mungkin Doanya Akan Dikabulkan?



Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan,”Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminin apa yang Allah perintahkan kepada para rasul-Nya”. Salah satunya terkait makanan, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan.” (QS Al-Mu’minun[23]:51).

Jadi, perintah Allah Ta’ala kepada para rasul-Nya dan perintah-Nya kepada kaum mukminin sama, yaitu agar mereka memakan makanan yang baik, sedangkan makanan yang buruk hukumnya haram atas mereka, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla ketika menyifati Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka.” (QS Al-A’raf[7]:157).
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan memakan makanan haram menghalangi terkabulnya doa seseorang meskipun yang bersangkutan memiliki faktor-faktor penyebab dikabulkannya doa.

Pertama, seseorang telah menempuh perjalanan jauh, padahal perjalanan jauh merupakan faktor penyebab dikabulkannya doa. Kedua, seseorang yang rambutnya acak-acakan dan pakaiannya berdebu, padahal Allah itu sangat memperhatikan orang yang hatinya terkoyak mengharap belas kasih-Nya. Pada Hari Arafah Allah melihat hamba-hamba-Nya dan berfirman, “Hadapkanlah kepada-Ku orang yang rambutnya acak-acakan dan pakaiannya berdebu.” Jadi, kondisi tersebut juga merupakan faktor penyebab dikabulkannya doa

Ketiga, seseorang mengangkat kedua tangan ke langit padahal mengangkat kedua tangan ke langit merupakan faktor penyebab dikabulkannya doa. Allah Ta’ala malu kepada hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangan untuk mengembalikan kedua tangan itu dengan hampa.

Keempat, seseorang yang memanjatkan doa kepada-Nya, “Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku.” Ini adalah bentuk tawasul kepada Allah Ta’ala menggunakan sifat rububiyyah-Nya dan tawasul ini adalah salah satu faktor penyebab dikabulkannya doa. Meskipun yang bersangkutan memiliki 4 faktor penyebab dikabulkannya doa tetapi karena makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia mendapatkan makanan yang haram, maka doa yang bersangkutan tidak akan dikabulkan karena salah satu syarat dikabulkannya doa adalah menjauhi makanan haram.

Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan hanya menerima sesuatu yang baik.’ Allah Ta’ala Maha Baik terkait dengan dzat, sifat, dan perbuatan-Nya dan Allah Ta’ala hanya menerima sesuatu yang baik terkait dengan materi dan cara memperolehnya. Sedangkan sesuatu yang buruk materinya, seperti halnya khamer, atau buruk cara memperolehnya, seperti penghasilan riba, Allah Ta’ala tidak akan menerimanya.

Allah Ta’ala haramkan untuk umat ini, salah satunya terkait makanan, dengan perintah-perintah kepada hamba-hamba-Nya sebagai bentuk penjagaan dan perlindungan-Nya terhadap perkara-perkara yang membuat mudharat bagi kita. Allah Ta’ala memperingatkan kita dari musuh yang nyata yaitu setan yang telah menipu nenek moyang kita, Adam alaihissalam, yang menjerumuskannya ke dalam perbuatan yang telah Allah Ta’ala haramkan.  Allah Ta’ala berfirman, “Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]:168).

Allah Ta’ala telah menghalalkan untuk orang-orang mukmin makanan yang baik-baik agar dapat membantu kita untuk taat Allah Ta’ala dan mengharamkan kekejian agar tidak memberikan dampak buruk bagi kita. Oleh karena itu, la haulawa la quwwataillabillah, mari kita mengupayakan semaksimal mungkin apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah [2]:172).

Makanan yang halal itu sudah jelas. Makanan haram juga sudah jelas. Supaya doa kita tidak terhalang, pastikan kita penuhi faktor-faktor terkabulnya doa, dan upayakan semaksimal mungkin makanan yang kita konsumsi dan cara memperolehnya adalah halal. Jauhi makanan haram, termasuk juga makanan yang syubhat.

Penulis : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pemimpin Redaksi Majalah Fahma

Lindungi Anak dari Bullying!


Irwan Nuryana Kurniawan

Zych, Farrington, Llorent, dan Ttofi (2017) mencatat studi tentang school bullying sudah berlangsung sekitar 40 tahun dan ada banyak informasi yang dihasilkan dari studi-studi tersebut tentang apa sebenarnya bullying, bagaimana dinamika terjadinya bullying, apa saja yang predictor bullying, dan bagaimana dampak-dampak bullying, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Bullying merupakan jenis kekerasan yang sangat merusak, melibatkan sejumlah siswa yang dengan sengaja menyerang dan menyakiti siswa-siswa yang tidak mampu membela dirinya, sering dilakukan, dan berlangsung dalam waktu yang lama.

Sejumlah siswa ada yang rentan menjadi korban bullying, beberapa siswa ada yang menjadi pelaku bullying, beberapa siswa menjadi pengamat kejadian bullying yang mungkin saja mendukung pelaku bullying, atau hanya mengamati peristiwa bullying tapi tidak melakukan apa pun.

Orpinas dan Horne (2006) mencatat dari berbagai penelitian bahwa korban-korban bullying melaporkan diri mereka mengalami depresi, memiliki harga diri yang rendah, dan mengalami permasalahan-permasalahan terkait stress seperti sakit kepala, sakit perut, kesulitan tidur, dan mengompol.

Siswa-siswa yang sedang menjadi target bullying cenderung menghindar untuk pergi ke sekolah karena mereka khawatir dengan keamanan mereka. Mereka juga melaporkan memiliki sedikit teman dan karenanya mereka merasa kesepian di sekolah.

Fakta bahwa mereka memiliki sedikit teman membuat mereka mudah menjadi target bullying dan anak-anak yang lain tidak mau berteman dengan mereka karena mereka takut menjadi target bullying selanjutnya.

Zych dkk (2017) juga mencatat dari sejumlah hasil penelitian tentang dampak buruk jangka panjang dari bullying. Anak-anak yang terlibat dalam bullying juga menunjukkan probabilitas yang lebih tinggi menjadi terlibat dalam perilaku penyerangan dan antisosial di masa dewasa.

Hasil Studi Cambridge dalam Perkembangan Kenakalan, anak-anak yang terlibat dalam bullying di sekolah ditemukan dua kali lebih tinggi peluangnya menjadi tersangka pelaku penyerangan dengan kekerasan pada saat mereka berusia 15-20 tahun, bahkan setelah mengendalikan faktor permasalahan di masa anak-anak, perilaku antisosial di masa anak-anak, dan perilaku agresif yang dilaporkan oleh gurunya.

Hasil studi longitudinal di Selandia Baru juga menemukan anak-anak pelaku bullying memiliki peluang hampir tiga kali lebih tinggi untuk menjadi tersangka pelaku kekerasan saat masa dewasa dibandingkan mereka yang bukan pelaku bullying di masa anak-anak, bahkan setelah mengendalikan faktor gender, IQ, penyimpangan afiliasi teman sebaya, dan sejarah kriminal orangtua mereka.
Memperhatikan dampak buruk yang timbulkan bullying, jangka pendek maupun jangka panjang, bagi korban maupun pelaku, maka perlu dikenali faktor-faktor resiko (yang mempertinggi kemungkinan anak menjadi pelaku maupun korban bullying) maupun faktor-faktor protektif (yang melindungi dan memperkecil kemungkinan anak menjadi pelaku maupun korban bullying),  di level individu, lingkungan keluarga, teman, dan sekolah.

Berikut adalah ringkasan informasi yang dapat dijadikan acuan untuk upaya perlindungan anak, terutama dari sisi pencegahan:
Faktor Resiko
Faktor Protektif

Faktor Pribadi

Anak: laki-laki, memiliki nilai pelajaran rendah, efikasi diri tinggi untuk agresi, berharap sukses ketika melakukan bullying sekaligus berharap tidak konsekuensi negatif yang diterimanya, menganggap berharga akibat yang ditimbulkan dari bullying yang dilakukannya, memegang keyakinan-keyakinan yang mendukung kekerasan, menyalahkan pihak lain ketika bullying tidak berhasil, keterampilan pemecahan masalah yang rendah, menunjukkan perilaku-perilaku beresiko (minum alkohol atau obat-obatan, membawa senjata tajam, anggota geng), dan didiagnosis mengalami gangguang hiperaktivitas, atau gangguan belajar

Anak: perempuan, memiliki prestasi belajar memuaskan, memiliki komitmen untuk belajar, termotivasi di sekolah, membaca untuk kesenangan, terhubung dengan sekolah, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah, menunjukkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, persahabatan, perdamaian, penghargaan, kompeten secara sosial dan budaya (misalnya terampil dalam pemecahan masalah, orietansi tujuan yang jelas, ramah), memiliki identitas positif (misalnya harga diri tinggi, memiliki tujuan hidup yang jelas, pandangan hidup positif, menggunakan waktu secara konstruktif

Faktor Resiko
Faktor Protektif

Hubungan Dekat: Keluarga dan Teman

Orangtua atau pengasuh: memiliki hubungan negatif dengan anak, komunikasi yang buruk dengan anak, tidak mengawasi anak, tidak menetapkan batasan-batasan dan konsekuensi-konsekuensi untuk perilaku-perilaku negatif, menunjukkan perilaku kekerasan yang tinggi, termasuk kekerasan terhadap pasangan, terhadap anak, disiplin yang kasar.

Teman-teman: nakal, melakukan kekerasan, merokok, minumal beralkohol dan atau obat-obatan.

Orangtua atau pengasuh: menyayangi, peduli, komunikasi positif dengan anak, aktif melakukan pengawasan, memiliki aturan dan konsekuensi yang jelas, menjadi contoh peran dalam hal resolusi konflik,  perilaku tenang dan terkendali, terlibat dalam kehidupan anak di sekolah dan secara keseluruhan, berbagi kegiatan dengan anak.

Teman-teman: positif, peduli, menyukai kegiatan akademik

Faktor Resiko
Faktor Protektif

Lingkungan Sekolah

Sekolah: iklim sekolah negatif, tidak mendorong hubungan-hubungan positif antara guru-guru dan siswa-siswa, kurang pengawasan, tidak memiliki kebijakan tentang bullying, mengijinkan perilaku bullying oleh orang dewasa terhadap siswa, mengandalkan sistem disiplin dengan hukuman.

Sekolah: iklim sekolah positif, mendukung hubungan-hubungan positif antara guru-guru dan siswa-siswa, memiliki tingkat pengawasan yang ketat, memiliki kebijakan yang jelas menentang bullying, mengedepankan kualitas tinggi dalam pengajaran, memberikan kesempatan-kesempatan untuk anak-anak yag membutuhkan bantuan akademik, menyediakan kesempatan -kesempatan bagi anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang bermakna di sekolah, memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap semua siswa.

Penelitian Ilmiah tentang Gangguan Kesehatan Mental Lesbian, Gay, Biseksual (LGB)



Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan

Semlyen, King, Varney, & Hagger-Johnson (2016) dalam studi meta analisis (penelitian berbentuk evaluasi terhadap sejumlah penelitian yang mengangkat topik/tema yang sama) yang melibatkan 94.818 partisipan menemukan orang-orang dewasa yang menganggap dirinya sebagai lesbian/gay/biseksual (penulisan selanjutnya disingkat LGB, berjumlah 2,8% partisipan)  memperlihatkan prevalensi yang lebih tinggi dalam hal gejala-gejala gangguan mental umum dan kebahagiaan yang rendah dibandingkan mereka yang orientasinya bersifat heteroseksual (berjumlah 97.2% partisipan). Perbedaan antar kedua kelompok orientasi seksual ini tampak nyata pada kelompok usia di bawah 35 tahun dan paling kuat pada kelompok usia 55 tahun ke atas.

Kelompok LGB ini kemungkinan besar mengalami berbagai bentuk prasangka, viktimisasi, dan diskriminasi yang dapat mengakibatkan mereka mengalami permasalahan-permasalah kesehatan karena pengalaman-pengalaman negatif tersebut terinternalisasi (baca: terhayati). Stress yang diakibatkan oleh pengalaman tersebut kemungkinan mengakibatkan orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai LGB mengalami kesehatan mental dan kesejahteraan yang lebih buruk, melakukan perilaku-perilaku yang tidak sehat, dan akhirnya memperburuk kesehatan fisik mereka. Mereka bisa jadi lebih rentan untuk melakukan perilaku-perilaku beresiko seperti merokok, minum-minum yang membahayakan, dan penyalahgunaan obat-obatan di mana semua hal tersebut disebutkan dalam studi-studi terkini dan pustaka lainnya menjadi prevalensi di dalam komunitas LGB.

Temuan yang kurang lebih sama ditemukan pada penelitian (Becker, Cortina, Tsai, & Eccles, 2014), sebuah analisis longitudinal (penelitian yang dilakukan dalam jangka panjang, dalam satuan waktu semester, tahunan) tentang kesejahteraan psikologis dan kesehatan mental terhadap 2.451 sample remaja (berumur 16 tahun) yang diikuti perkembangannya sampai mereka pada tahapan dewasa awal (berusia 28 tahun). Secara keseluruhan tingkat depresi afektif, pikiran bunuh diri, konsumsi alkohol, dan keterasingan sosial lebih menonjol/dominan perkembangannya pada kelompok remaja LGB (n=77 orang) dibandingkan kelompok remaja heteroseksual (n=1631orang ).

Terkait bunuh diri, Hottes, Bogaert, Rhodes, Brennan, & Gesink(2016) dalam telaah sistematis dan studi meta analisis yang melibatkan 21.201 orang dewasa LGB menemukan kelompok LGB menunjukkan prevalensi usaha-usaha untuk bunuh diri yang lebih tinggi dalam masa hidupnya dibandingkan kelompok heteroseksual. Survey berbasis komunitas menemukan sebanyak 20% kelompok LGB pernah mencoba untuk bunuh diri.

Plöderl & Tremblay(2015) dalam telaah sistematik terhadap 199 studi tentang permasalahan kesehatan mental kelompok orientasi seksual minoritas (baca non heteroseksual). Mayoritas studi secara jelas melaporkan meningkatnya resiko depresi, kecemasan, usaha-usaha bunuh diri atau bunuh diri, masalah penyalahgunaan napza, baik pada saat remaja atau dewasa, dari berbagai wilayah geografik, dan pada berbagai dimensi orientasi seksual (perilaku, atraksi,identatitas).

Przedworski et al., (2015) dengan melibatkan 34.342 mahasiswa yang berpartisipasi dalam Minnesota College Student Health Survey dari tahun 2007 sampai 2011, juga menemukan permasalahan gangguan-gangguan mental pada mahasiswa yang mengidentifikasikan dirinya sebagai LGB. Dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang memiliki orientasi seksual heteroseksual, mahasiswa-mahasiswa LGB lebih sering melaporkan keluhan-keluhan yang masuk ke dalam diagnosis gangguan kesehatan mental. Mereka juga secara signifikan lebih sering melaporkan mengalami stress mental dibandingkan mahasiswa-mahasiswa heteroseksual. Mereka memperlihatkan kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan mahasiswa dengan orientasi seksual heteroseksual.

Demikianlah sebagian potret empiris yang terungkap lewat temuan-temuan penelitian tentang kesehatan mental dan gangguan mental terkait perilaku hubungan seksual sesama jenis yang ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai orang-orang yang melampaui batas (QS Asy-Syu’ara:165-166) dan Allah Ta’ala menurunkan azab-Nya kepada mereka dari langit yaitu dihujani oleh batu dari langit Sijjil dan kemudian Allah Ta’ala membalikkan bumi yang mereka pijak.

Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. Pemimpin Redaksi Majalah Fahma

Lelaki Muslim Harus Jadi Pemimpin yang Bertanggung Jawab



Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan

Menurut penulis, setiap anak laki-laki muslim yang berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah ketika telah mampu untuk menikah, maka ia harus menikah.

Dengan menikah ia akan cenderung dan merasa tentram (sakinah; QS Ar-Rum:21), telah menyempurnakan separuh agamanya (HR Baihaqi), lebih dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluannya (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, memohon karunia-rahmat kepada Allah Subhanahu wa Taala agar upaya-upaya menyiapkan anak laki-laki muslim memiliki kompetensi kepemimpinan keluarga yang bertanggung jawab berhasil dilakukan adalah sangat penting dan prioritas.

Dalam konteks kehidupan keluarga,“Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap kamu bertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Dan laki-laki adalah pemimpin terhadap ahli rumahnya. Dan wanita adalah pemimpin terhadap rumah tangga suaminya dan anaknya. Maka tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemiminannya. (HR Muslim).”

Laki-laki memikul tanggung jawab kepemimpinan dan memberi nafkah, sedangkan wanita memikul tanggung jawab memelihara dan mendidik anak, dan mengatur urusan rumah tangga.

Perlunya menyiapkan anak laki-laki muslim untuk memiliki kompetensi kepemimpinan keluarga yang bertanggung jawab, menurut Syuqqah (1999) karena keluarga adalah organisasi yang memiliki kekhususan.

Keluarga ditegakkan di atas dasar cinta kasih dan hubungan internalnya terjalin dengan suatu cara yang tidak terdapat dalam organisasi manapun yaitu meliputi seluruh sisi kehidupan pribadi, dimulai dari hubungan yang paling khusus yaitu hubungan hubungan biologis, ditambah pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, makanan, minuman, dan pakaian, sampai yang terpenting adalah pemeliharaan dan pendidikan anak.

Dengan demikian, hubungan seorang laki-laki dengan istrinya lebih khusus dan lebih dalam daripada hubungan manapun dan keluarga merupakan tempat ketenangan dan ketentraman.

Kepemimpinan dalam keluarga, lanjut Syuqqah (1999), bukanlah sistem otokrasi, tapi sistem musyawarah karena musyawarah merupakan akhlak Muslim dalam segala urusannya. Kepemimpinan keluarga adalah syariyah yakni diatur dengan kaidah syariah, seperti kaidah yang luhur, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf,” (QS Al Baqarah:228).

Utamanya yang berhubungan dengan seluruh hukum khusus tentang perkawinan, talak, dan adab-adab pergaulan yang mengatur kehidupan dan mengarahkannya kepada kebaikan.

Kepemimpinan keluarga adalah kepemimpinan cinta kasih, ditegakkan atas dasar cinta dan kasih sayang.
Dalam bahasa Baharits (2007), kepemimpinan keluarga bukan dimaksudkan sebagai kekuasaan sewenang-wenang, tetapi bermakna kepemimpinan cinta kasih, perlindungan, pendidikan, bimbingan dan kekuasaan yang manusiawi. Kepemimpinan keluarga tidak dimaksudkan untuk menghilangkan kerjasama antar suami-istri dalam mengatasi persoalan rumah tangga dan mendidik anak. Tolong menolong di antara suami-istri merupakan sesuatu yang vital untuk kesempurnaan penunaian tanggung jawab di satu sisi dan untuk memelihara rasa cinta kasih dari sisi lain.

Ibnu Abbas dalam tafsir Al Qurthubi tentang “Dan para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada para istri” menegaskan bahwa kaum laki-laki dianjurkan untuk bergaul dengan lebih baik dan bersikap lapang terhadap istri dalam hal harta dan akhlak. Laki-laki yang mempunyai kelebihan—baik kelebihan itu berupa jihad, kepemimpinan, atau dalam memuliakan istrinya dan menolerir sebagian hak yang merupakan kewajiban istrinya—seyogianya memikul beban atas dirinya sendiri karena kasih sayang kepada keluarganya.

Kelebihan dan kemulaian kepemiminan keluarga adalah kelebihan kepemimpinan yang penuh kasih sayang dan kemuliaan memikul tanggung jawab.
Tidaklah otomatis seorang laki-laki muslim yang sukses menjadi lulusan perguruan tinggi dan memiliki pengalaman sukses memimpin organisasi intra maupun ekstra kampus, pasti sukses menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab dalam keluarganya.||