Showing posts with label Zainal Fanani. Show all posts
Showing posts with label Zainal Fanani. Show all posts

Mesin dan Metode


Oleh : RUA Zaenal Fanani

“Pak Ruslan, please, tolong saya …. Nanti sore kan ada pertemuan komite sekolah, saya ingin menyampaikan tentang input sekolah kepada teman-teman sesama pengurus. Apa input sekolah yang diterangkan Pak Ruslan sudah selesai? Cuma tiga itu? Manusia … engh … uang … dan material …?” Hari masih begitu pagi, ketika tiba-tiba Ibu Ilham muncul dan langsung “nerocos” seperti banjir bandang.

Bu Ruslina yang menyiapkan sarapan pagi untuk Angga, agak kaget juga. “Pagi-pagi sekali, Bu Ilham ..”

Bu Ilham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Maaf ya, bu. Soalnya saya takut keburu nggak ketemu Pak Ruslan. Padahal nanti sore ada pertemuan komite …” Wajah Bu Ilham tampak memelas.

Pak Ruslan hanya bisa terseyum. Sebetulnya pagi ini ada rencana mencuci motor bututnya, baru berangkat mengajar.

“Bawa ember  dan lap, mau nyuci motor ya, Pak? Pak Ruslan terangkan saja dulu, nanti biar sayayang mencucikan motornya …! Please …”

Pak Ruslan tertawa lebar. Bu Ruslina yang mendengar rajukan Bu Ilham pun ikut tersenyum.

“Baiklah, Bu, kita lanjutkan dengan input sekolah yang keempat : Mesin ..”
“Mesin? Anak SD apa ya sudah diajar tentang mesin-mesin to, Pak?” potong Bu Ilham.
“Lho, kita kan sedang berdiskusi tentang input sekolah, bukan isi pelajaran … Jadi, mesin di sini maksudnya bukan pelajaran tentang mesin, tapi input berupa mesin-mesi …”

“Apa maksudnya sekolah itu mirip mobil ya, Pak? Kok pakai mesin segala …” tanya Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya. Tak lupa memperagakan seperti sopir angkot.

“Sekolah membutuhkan berbagai perangkat untuk mendukung pembelajaran. Sekarang ini sudah zaman komputer. Hampir semua sekolah sudah menggunakannya. Kata “mesin” mewakili perangkat teknologi seperti komputer, radio, televisi, LCD, OHP, alat-alat audio-visual, mobil, dsb. Sekarang zaman kan emang semakin canggih. Alat-alat bantu untuk belajar pun makin canggih pula. Sebetulnya tanpa “mesin-mesin” ini kegiatan belajar di sekolah bisa-bisa saja tetap berjalan, tapi tentu kurang optimal …” urai Pak Ruslan.

“Wah, sebagai bendahara saya harus jeli melihat “mesin-mesin” apa yang belum dimiliki sekolah. Kalau Abror dan teman-temannya bisa belajar dengan komputer dan alat-alat bantu yang lain, pasti bisa lebih asyik. Ini tugasnya komite sekolah ya, Pak …”

Pak Ruslan mengangguk. “Yah, bila bisa diusahakan, mengapa tidak? Tapi tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan dan skala prioritas. Dan yang lebih penting lagi adalah pemanfaatannya.jangan sampai setelah dibeli malah tidak pernah digunakan. Atau, tidak punya keterampilan untuk menggunakannya. Ini kan namanya sia-sia, mubazir …”

“Ada yang lebih puentiiing lagi lho, Pak …”

“Apa itu, Bu?”

“Perawatan! Kalau tidak dirawat, alat-alat itu akan mudah rusak. Kalau sedikit-sedikit rusak, bangkrut saya, Pak …” ujar Bur Ilham. Bibirnya, seperti biasa dimonyonkannya dengan penuh semangat.

“Betul. Saya setuju sekali. Ini sering menjadi kelemahan kita.bisa membeli tapi kurang bisa merawat. Input keempat ini memang membutuhkan ketekunan untuk mengadakan dan merawatnya …”
“Oh ya, itu inputyang kempat. Yang kelima?”

“Nah, yang kelima, atau yang treakhir, adalah input berupa metode-metode …”
Bu Ilham tampak mengerutkan keningnya.

“Sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus mengembangkan cara-cara, teknik, dan strategi terbaik agar tujuan pendidikan yang telah dicanangkan dapat terwujud. Jadi, metode-metode ini terkait dengan pembelajaran.guru harus berusaha mencari cara yang paling mudah dipahami oleh murid-murid …”

“Wah, ini amat sangat puentiiing sekali, pak!”

“Ya. Boleh dibilang inilah kegiatan paling inti dari sekolah. Kualitas guru ditentukan di sini. Otomatis ini sangat berpengaruh pada prestasi murid-murid dan akhirnya pada kualitas sekolah secara keseluruhan,” tandas Pak Ruslan.

“Tapi, ini kan tugas guru, Pak. Lha, pengurus komite sekolah bisa berbuat apa?”

“Oh, banyak yang bisa dilakukan Komite Sekolah dapat memprogramkan pelatihan-pelatihan guru agar mampu mengajar dengan metode-metode mutakhir. Bisa juga mengadakan buku-buku bacaan untuk penunjang guru. Bisa juga mebiayai studi banding, magang atau mengundang konsultan. Atau, bahkan memberi beasiswa tugas belajar bagi guru-gurunya agar kemampuan mengajarnya meningkat. Sekolah-sekolah yang maju biasanya sangat memperhatikan hal ini. Bukan hanya membangun dan membeli barang-barang saja …”

Mendengar penjelasan Pak Ruslan Bu Ilham tampak terenung. Bibirnya terkatup rapat, sehingga tampak monyong dengan sendirinya. “Wah, kalau mengharapkan sekolahnya maju, komite sekolah memang harus sungguh-sungguh membantu ya, Pak. Kasihan para guru dan pengurus yayasan kalau semuanya dibebankan kepada mereka ..”

Pak Ruslan tertawa lebar. “Begitulah sehaursnya …”

“Makasih, ya Pak. Please, sesuai janji saya, sekarang sebenarnya saya sudah siap mencucikan motornya Pak Ruslan. Tapi berhubung saya melihat Pak Ruslan tidak tega pada saya yang gemuk subur-makmur ini, maka dengan senang hati saya mengurungkannya dan segera pulang. Saya yakin,Pak Ruslan pasti juga tidak rela kalau motor kesayangannya saya yang mencuci. Oke, saya tidak keberatan kok kalau Pak Ruslan mencuci sendiri …”
Pak Ruslan tersenyum.

Penulis : RUA Zaenal FananiKetua Yayasan SPA Indonesia
Foto     : Google 

Kurikulum Tersembunyi


Oleh : RUA Zainal Fanani

Akhir-akhir ini Bu Ruslina sering uring-uringan. Pasalnya, banyak perilaku dan akhlak Angga, putri satu-satunya yang sudah sekolah, yang sering mengagetkannya, “Anak kita kok ucapannya sering jorok ya Bi. Padahal  kita kan tidak pernah mengajari seperti itu.”

Pak Ruslan sebenarnya juga sama herannya. Beberapa kali ia memergoki Angga mengumpat kepada teman-temannya. Kepada ayahnya pun putri semata wayangnya itu sering mempertunjukkan sikap yang kurang hormat. “Abi juga merasakan begitu, di rumah memang tidak diajari berakhlak seperti itu, tapi barangkali di sekolah.”

Bu Ruslina agak kaget. “Di sekolah? Masak guru-guru di sekolah Islam mengajari anak kita berakhlak  yang tidak terpuji, rasanya Umi kok tidak percaya.”

Pak Ruslan tersenyum. Sebagai orangtua yang belajar ilmu pendidikan, istrinya tentu masih kurang paham tentang apa yang sesungguhnya bisa terjadi di sekolah. Namun, belum sempat Pak Ruslan memberi penjelasan, Bu Ruslina sudah tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.

“Bi, sekolahnya Angga kan sekolah Islam. Kurikulumnya kan pasti islami. Masa ada pelajaran untuk berbicara sejorok itu.”

Yang terakhir ini. Bu Ruslina menyebut-nyebut soal kurikulum. Rupanya Bu Ruslina belum terlalu paham makna dari kata kurikulum. Yang dipahaminya hanyalah kurikulum sebagai sekumpulan mata pelajaran, atau lebih luas sedikit, muatan materi dalam mata pelajaran. Tentu itu tidak keliru. Tapi yang dipahami Bu Ruslina adalah kurikulum dalam arti sempit.

Memang, dalam arti formal, kurikulum meliputi semua hal, yang memungkinkan tujuan belajar di sebuah sekolah bisa tercapai. Ini berarti, apa saja yang diprogramkan oleh pihak sekolah, termasuk oleh para guru, dapat dimasukkan dalam pengertian kurikulum. Misalnya saja, dalam membentuk pribadi siswa yang tangguh, sekolah menerapkan tata tertib dan disiplin yang cukup tegas. Peraturan dibuat untuk diterapkan secara adil, konsekuen dan tidak pandang bulu. Hal demikian, sesungguhnya termasuk kurikulum, karena secara sengaja diberlakukan untuk mencapai tujuan tertentu.

Kegiatan ekstrakurikuler, pengembangan organisasi kelas dan organisasi sekolah, pembinaan koperasi sekolah, kepanduan, dan sebagainya juga termasuk di dalamnya. Para cerdik pandai menyebutnya sebagai keseluruhan pengalaman belajar, yang dirasakan oleh siswa, dan telah ditetapkan tujuannya.

Penjelasan Pak Ruslan tidak terlalu sulit untuk dimengerti oleh Bu Ruslina. ‘Yah Umi tahu, semua yang Abi terangkan memang punya tujuan baik. Berorganisasi memang baik untuk belajar kepemimpinan dan mematangkan kepribadian. Kepanduan juga sama. Kegiatan ektrakurikuler bagus untuk mengembangkan bakat dan minat. Itu sih Umi juga tahu. Yang Umi baru, ternyata itu semua masuk dalam kurikulum, ya Bi?”

Pak Ruslan mengangguk, “Yang jelas kurikulum bukan hanya susunan mata pelajaran.”

“Cuma Bi, apa hubungannya kurikulum dengan perilaku buruk anak kita, akhir-akhir ini?”  tanya Bu Ruslina lebih lanjut. “Umi tidak percaya kalau sekolah tempat Angga belajar membuat program seperti itu.”

“Ya jelas tidak,” Pak Ruslan tertawa. “Tapi, walaupun tidak diprogram atau disengaja, ini termasuk kurikulum juga.”

“Eh, bagaimana Bi? Ahklak  buruk kita termasuk kurikulum?” Bu Ruslina agak tersentak.

“Begitulah.”

“Umi kok jadi semakin tidak mengerti.”

Pak Ruslan tidak menyalahkan istrinya, kebanyakkan orang juga memiliki pemahaman seperti itu. Orang cenderung kurang menyadari bahwa sesungguhnya siswa banyak belajar dari hal-hal lain yang tidak diprogramkan, atau tidak disengaja. Terkadang, pembentukkan karakter, kebiasaan-kebiasaan lebih banyak terbentuk oleh hal-hal yang tidak disengaja. Suasana sekolah dan kelas yang jorok, kurang bersih, akan membentuk karakter siswa yang kurang peka pada masalah-masasalah kebersihan. Siswa tertentu, belajar merokok, mengompas (meminta dengan paksa. Red), dan sebagainya justru dari pergaulan dan suasana sekolah yang kurang kondusif. Bahkan, bisa saja siswa belajar mengembangkan kekerasan dari sikap kasar para gurunya. “Yang begini-begini ini jelas tidak diprogram oleh sekolah. Tetapi terbukti menimbulkan pengaruh.”

“Tapi masak iya sih ini masuk kurikulum?” tanya Bu Ruslan dengan nada agak tinggi.

“Kalau di kurikulum formalnya ya tentu saja tidak. Tapi inilah yang disebut kurikulum tersembunyi. Istilah kerennya hidden curriculum,” jawab Pak Ruslan. “Disebut kurikulum tersembunyi, karena sering tidak disadari, tak terlihat, tapi nyata akibatnya.”

Bu Ruslina terlihat mulai paham. Ia mulai bisa memahami apa yang terjadi pada putrinya, Angga. Dalam keluarga Pak Ruslan dan Bu Ruslina terbilang cukup sungguh-sungguh dalam membina ahklak putrinya. Mereka berduapun tidak henti-hentinya memberi teladan. Mereka juga yakin, pihak sekolahpun tidak akan memprogramkan hal-hal buruk. Tapi ternyata, putrinya telah belajar sesuatu, tanpa disadari. “Wah, kalau begitu anak kita korban hidden curriculum ya Bi?”

Pak Ruslan tersenyum kecut. Ia sangat menyadari, tugas dan tanggungjawab sekolah memang tidak ringan. Salah satunya, berusaha keras agar akibat negatif dari hidden curriculum dapat dicegah dengan sekuat tenaga. Sebaliknya. “Kalau toh ada hidden curriculum, mudah-mudahan yang akibatnya itu positif.”

“Lho ada juga yang berakibat positif to Bi?” tanya Bu Ruslina.

“Tentu saja ada. Misalnya karena ada teman-temannya yang suka berkelahi, anak kita jadi tahu kalau berkelahi itu menyebalkan. Lalu, Angga sadar dan terlatih untuk melerai orang yang berkelahi. Ia jadi banyak belajar bagaimana caranya memimpin dan mengajak berbuat baik. Ini kan positif.”

Mata Bu Ruslina tampak berbinar-binar. Senyumnya mengembang. “Umi kira, yang suka sembunyi-sembunyi cuma ada dipermainan petak umpet, eh ternyata ada kurikulum yang tersembunyi ya Bi?” ujarnya sambil memijat mesra pundak Pak Ruslan, suami tercinta. “Nanti soal Angga Umi bicarakan dengan gurunya di sekolah. 


RUA Zainal Fanani, Trainer & Ketua Yayasan SPA Yogyaka

Mesin dan Metode


Oleh : RUA Zaenal Fanani

“Pak Ruslan, please, tolong saya …. Nanti sore kan ada pertemuan komite sekolah, saya ingin menyampaikan tentang input sekolah kepada teman-teman sesama pengurus. Apa input sekolah yang diterangkan Pak Ruslan sudah selesai? Cuma tiga itu? Manusia … engh … uang … dan material …?” Hari masih begitu pagi, ketika tiba-tiba Ibu Ilham muncul dan langsung “nerocos” seperti banjir bandang.

Bu Ruslina yang menyiapkan sarapan pagi untuk Angga, agak kaget juga. “Pagi-pagi sekali, Bu Ilham ..”

Bu Ilham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Maaf ya, bu. Soalnya saya takut keburu nggak ketemu Pak Ruslan. Padahal nanti sore ada pertemuan komite …” Wajah Bu Ilham tampak memelas.

Pak Ruslan hanya bisa terseyum. Sebetulnya pagi ini ada rencana mencuci motor bututnya, baru berangkat mengajar.

“Bawa ember  dan lap, mau nyuci motor ya, Pak? Pak Ruslan terangkan saja dulu, nanti biar sayayang mencucikan motornya …! Please …”

Pak Ruslan tertawa lebar. Bu Ruslina yang mendengar rajukan Bu Ilham pun ikut tersenyum.

“Baiklah, Bu, kita lanjutkan dengan input sekolah yang keempat : Mesin ..”

“Mesin? Anak SD apa ya sudah diajar tentang mesin-mesin to, Pak?” potong Bu Ilham.

“Lho, kita kan sedang berdiskusi tentang input sekolah, bukan isi pelajaran … Jadi, mesin di sini maksudnya bukan pelajaran tentang mesin, tapi input berupa mesin-mesi …”

“Apa maksudnya sekolah itu mirip mobil ya, Pak? Kok pakai mesin segala …” tanya Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya. Tak lupa memperagakan seperti sopir angkot.

“Sekolah membutuhkan berbagai perangkat untuk mendukung pembelajaran. Sekarang ini sudah zaman komputer. Hampir semua sekolah sudah menggunakannya. Kata “mesin” mewakili perangkat teknologi seperti komputer, radio, televisi, LCD, OHP, alat-alat audio-visual, mobil, dsb. Sekarang zaman kan emang semakin canggih. Alat-alat bantu untuk belajar pun makin canggih pula. Sebetulnya tanpa “mesin-mesin” ini kegiatan belajar di sekolah bisa-bisa saja tetap berjalan, tapi tentu kurang optimal …” urai Pak Ruslan.

“Wah, sebagai bendahara saya harus jeli melihat “mesin-mesin” apa yang belum dimiliki sekolah. Kalau Abror dan teman-temannya bisa belajar dengan komputer dan alat-alat bantu yang lain, pasti bisa lebih asyik. Ini tugasnya komite sekolah ya, Pak …”

Pak Ruslan mengangguk. “Yah, bila bisa diusahakan, mengapa tidak? Tapi tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan dan skala prioritas. Dan yang lebih penting lagi adalah pemanfaatannya.jangan sampai setelah dibeli malah tidak pernah digunakan. Atau, tidak punya keterampilan untuk menggunakannya. Ini kan namanya sia-sia, mubazir …”

“Ada yang lebih puentiiing lagi lho, Pak …”
“Apa itu, Bu?”

“Perawatan! Kalau tidak dirawat, alat-alat itu akan mudah rusak. Kalau sedikit-sedikit rusak, bangkrut saya, Pak …” ujar Bur Ilham. Bibirnya, seperti biasa dimonyonkannya dengan penuh semangat.

“Betul. Saya setuju sekali. Ini sering menjadi kelemahan kita.bisa membeli tapi kurang bisa merawat. Input keempat ini memang membutuhkan ketekunan untuk mengadakan dan merawatnya …”

“Oh ya, itu inputyang kempat. Yang kelima?”
“Nah, yang kelima, atau yang treakhir, adalah input berupa metode-metode …”

Bu Ilham tampak mengerutkan keningnya.

“Sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus mengembangkan cara-cara, teknik, dan strategi terbaik agar tujuan pendidikan yang telah dicanangkan dapat terwujud. Jadi, metode-metode ini terkait dengan pembelajaran.guru harus berusaha mencari cara yang paling mudah dipahami oleh murid-murid …”

“Wah, ini amat sangat puentiiing sekali, pak!”

“Ya. Boleh dibilang inilah kegiatan paling inti dari sekolah. Kualitas guru ditentukan di sini. Otomatis ini sangat berpengaruh pada prestasi murid-murid dan akhirnya pada kualitas sekolah secara keseluruhan,” tandas Pak Ruslan.

“Tapi, ini kan tugas guru, Pak. Lha, pengurus komite sekolah bisa berbuat apa?”

“Oh, banyak yang bisa dilakukan Komite Sekolah dapat memprogramkan pelatihan-pelatihan guru agar mampu mengajar dengan metode-metode mutakhir. Bisa juga mengadakan buku-buku bacaan untuk penunjang guru. Bisa juga mebiayai studi banding, magang atau mengundang konsultan. Atau, bahkan memberi beasiswa tugas belajar bagi guru-gurunya agar kemampuan mengajarnya meningkat. Sekolah-sekolah yang maju biasanya sangat memperhatikan hal ini. Bukan hanya membangun dan membeli barang-barang saja …”

Mendengar penjelasan Pak Ruslan Bu Ilham tampak terenung. Bibirnya terkatup rapat, sehingga tampak monyong dengan sendirinya. “Wah, kalau mengharapkan sekolahnya maju, komite sekolah memang harus sungguh-sungguh membantu ya, Pak. Kasihan para guru dan pengurus yayasan kalau semuanya dibebankan kepada mereka ..”

Pak Ruslan tertawa lebar. “Begitulah sehaursnya …”

“Makasih, ya Pak. Please, sesuai janji saya, sekarang sebenarnya saya sudah siap mencucikan motornya Pak Ruslan. Tapi berhubung saya melihat Pak Ruslan tidak tega pada saya yang gemuk subur-makmur ini, maka dengan senang hati saya mengurungkannya dan segera pulang. Saya yakin,Pak Ruslan pasti juga tidak rela kalau motor kesayangannya saya yang mencuci. Oke, saya tidak keberatan kok kalau Pak Ruslan mencuci sendiri …”

Pak Ruslan tersenyum.

Penulis: RUA Zaenal Fanani, Motivator Pendidikan

Mesin dan Metode


Oleh : RUA Zaenal Fanani

“Pak Ruslan, please, tolong saya …. Nanti sore kan ada pertemuan komite sekolah, saya ingin menyampaikan tentang input sekolah kepada teman-teman sesama pengurus. Apa input sekolah yang diterangkan Pak Ruslan sudah selesai? Cuma tiga itu? Manusia … engh … uang … dan material …?” Hari masih begitu pagi, ketika tiba-tiba Ibu Ilham muncul dan langsung “nerocos” seperti banjir bandang.

Bu Ruslina yang menyiapkan sarapan pagi untuk Angga, agak kaget juga. “Pagi-pagi sekali, Bu Ilham ..”

Bu Ilham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Maaf ya, bu. Soalnya saya takut keburu nggak ketemu Pak Ruslan. Padahal nanti sore ada pertemuan komite …” Wajah Bu Ilham tampak memelas.

Pak Ruslan hanya bisa terseyum. Sebetulnya pagi ini ada rencana mencuci motor bututnya, baru berangkat mengajar.

“Bawa ember  dan lap, mau nyuci motor ya, Pak? Pak Ruslan terangkan saja dulu, nanti biar sayayang mencucikan motornya …! Please …”

Pak Ruslan tertawa lebar. Bu Ruslina yang mendengar rajukan Bu Ilham pun ikut tersenyum.

“Baiklah, Bu, kita lanjutkan dengan input sekolah yang keempat : Mesin ..”

“Mesin? Anak SD apa ya sudah diajar tentang mesin-mesin to, Pak?” potong Bu Ilham.

“Lho, kita kan sedang berdiskusi tentang input sekolah, bukan isi pelajaran … Jadi, mesin di sini maksudnya bukan pelajaran tentang mesin, tapi input berupa mesin-mesi …”

“Apa maksudnya sekolah itu mirip mobil ya, Pak? Kok pakai mesin segala …” tanya Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya. Tak lupa memperagakan seperti sopir angkot.

“Sekolah membutuhkan berbagai perangkat untuk mendukung pembelajaran. Sekarang ini sudah zaman komputer. Hampir semua sekolah sudah menggunakannya. Kata “mesin” mewakili perangkat teknologi seperti komputer, radio, televisi, LCD, OHP, alat-alat audio-visual, mobil, dsb. Sekarang zaman kan emang semakin canggih. Alat-alat bantu untuk belajar pun makin canggih pula. Sebetulnya tanpa “mesin-mesin” ini kegiatan belajar di sekolah bisa-bisa saja tetap berjalan, tapi tentu kurang optimal …” urai Pak Ruslan.

“Wah, sebagai bendahara saya harus jeli melihat “mesin-mesin” apa yang belum dimiliki sekolah. Kalau Abror dan teman-temannya bisa belajar dengan komputer dan alat-alat bantu yang lain, pasti bisa lebih asyik. Ini tugasnya komite sekolah ya, Pak …”

Pak Ruslan mengangguk. “Yah, bila bisa diusahakan, mengapa tidak? Tapi tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan dan skala prioritas. Dan yang lebih penting lagi adalah pemanfaatannya.jangan sampai setelah dibeli malah tidak pernah digunakan. Atau, tidak punya keterampilan untuk menggunakannya. Ini kan namanya sia-sia, mubazir …”

“Ada yang lebih puentiiing lagi lho, Pak …”
“Apa itu, Bu?”

“Perawatan! Kalau tidak dirawat, alat-alat itu akan mudah rusak. Kalau sedikit-sedikit rusak, bangkrut saya, Pak …” ujar Bur Ilham. Bibirnya, seperti biasa dimonyonkannya dengan penuh semangat.

“Betul. Saya setuju sekali. Ini sering menjadi kelemahan kita.bisa membeli tapi kurang bisa merawat. Input keempat ini memang membutuhkan ketekunan untuk mengadakan dan merawatnya …”

“Oh ya, itu inputyang kempat. Yang kelima?”
“Nah, yang kelima, atau yang treakhir, adalah input berupa metode-metode …”

Bu Ilham tampak mengerutkan keningnya.

“Sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus mengembangkan cara-cara, teknik, dan strategi terbaik agar tujuan pendidikan yang telah dicanangkan dapat terwujud. Jadi, metode-metode ini terkait dengan pembelajaran.guru harus berusaha mencari cara yang paling mudah dipahami oleh murid-murid …”

“Wah, ini amat sangat puentiiing sekali, pak!”

“Ya. Boleh dibilang inilah kegiatan paling inti dari sekolah. Kualitas guru ditentukan di sini. Otomatis ini sangat berpengaruh pada prestasi murid-murid dan akhirnya pada kualitas sekolah secara keseluruhan,” tandas Pak Ruslan.

“Tapi, ini kan tugas guru, Pak. Lha, pengurus komite sekolah bisa berbuat apa?”

“Oh, banyak yang bisa dilakukan Komite Sekolah dapat memprogramkan pelatihan-pelatihan guru agar mampu mengajar dengan metode-metode mutakhir. Bisa juga mengadakan buku-buku bacaan untuk penunjang guru. Bisa juga mebiayai studi banding, magang atau mengundang konsultan. Atau, bahkan memberi beasiswa tugas belajar bagi guru-gurunya agar kemampuan mengajarnya meningkat. Sekolah-sekolah yang maju biasanya sangat memperhatikan hal ini. Bukan hanya membangun dan membeli barang-barang saja …”

Mendengar penjelasan Pak Ruslan Bu Ilham tampak terenung. Bibirnya terkatup rapat, sehingga tampak monyong dengan sendirinya. “Wah, kalau mengharapkan sekolahnya maju, komite sekolah memang harus sungguh-sungguh membantu ya, Pak. Kasihan para guru dan pengurus yayasan kalau semuanya dibebankan kepada mereka ..”

Pak Ruslan tertawa lebar. “Begitulah sehaursnya …”

“Makasih, ya Pak. Please, sesuai janji saya, sekarang sebenarnya saya sudah siap mencucikan motornya Pak Ruslan. Tapi berhubung saya melihat Pak Ruslan tidak tega pada saya yang gemuk subur-makmur ini, maka dengan senang hati saya mengurungkannya dan segera pulang. Saya yakin,Pak Ruslan pasti juga tidak rela kalau motor kesayangannya saya yang mencuci. Oke, saya tidak keberatan kok kalau Pak Ruslan mencuci sendiri …”

Pak Ruslan tersenyum.

Penulis: RUA Zaenal Fanani, Ketua Yayasan SPA Indonesia

Foto: google

KEDUDUKAN KOMITE SEKOLAH



Meski harus sering menghadiri rapat-rapat Komite Sekolah, Bu Ilham tampak sangat bersemangat. Begitu bersemangatnya, hingga setiap pulang dari rapat komite, Bu Ilham selalu mapir di rumah Pak Ruslan. Ada-ada saja ceritanya. BU Ruslina pun selalu menyambut kehadiran Bu Ilham dengan senang hati. Soalnya, Bu Ruslina sendiri bisa ikut belajar banyak dari cerita-cerita Bu Ilham. Seperti yang terjadi sore ini ..
“Pak Ruslan, hari ini ada yang sangat aneh lho, Pak. Masa SD yang sekomplek dengan sekolahnya Abror, minta pengurus komitenya digabung saja. Di lokasi itu kan memang ada 2 SD dan sekomplek. Tapi kan SD nya sendiri-sendiri, namanya juga beda, muridnya beda, kepala sekolahnya juga beda, guru-gurunya beda.harusnya kan membentuk kepengurusan komite sendiri. Tapi ini aneh . minta digabung saja …” Kisah Bu Ilham dengan wajah ekspresif, seperti biasanya.
Pak Ruslan tersenyum. “Kalau gabungan, kan Bu Ilham nanti memegang uang banyak. Jadi bendahara komite dari 2 sekolah. Enak kan?”
“Wah, kalau uangnya terlalu banyak, pusing saya. Berat tanggung jawabnya. Capek mencatatnya …,” keluh Bu Ilham.
“Kok aneh ya, Bi. Ada sekolah tidak membentuk pengurus komite sekolah sendiri, malah minta gabungan dengan sekolah lain. Apa ini boleh?” Bu Ruslina tertarik untuk ikut bertanya. Bagi BU Ruslina, berita yang disampaikan Bu Ilham cukup mengusik rasa ingin tahunya.
“Memang hal ini cukup jarang terjadi …,” kata Pak Ruslan. “Dan …”
“Mestinya ini tidak boleh ya, Pak? Melanggar peraturan!” sergah Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya.
“Sabar Bu Ilham .. saya harus jelaskan dulu. Memang ini jarang terjadi … Tapi sebenarnya membentuk komite sekolah gabungan dua atau lebih SD yang saling berdekatan boleh-boleh saja. Tidak ada larangannya sama sekali. Syaratnya, semuanya disepakati …” urai Pak Ruslan.
Bu Ruslina mengernyitkan dahi. “Abi .. ini lebih aneh lagi. Kalau menurut penjelasan Abi tadi, pengurus komite gabungan bisa dibentuk tidak hanya untuk sekolah yang satu komplek, tapi yang berdekatan.abi tadi juga bilang, gabungannta tidak hanya dua sekolah tapi bisa lebih. Masa begitu, Bi?”
“Ya, Bu. Saya kok jadi tambah bingung …”
“Tidak usah bingung Bu Ilham. Memang boleh-boleh saja. Bahkan, bila sekolahnya tidak berdekatan sekalipun, misalnya beberapa SD yang berada di satu wilayah tertentu, satu desa atau kelurahan, sepakat hanya membuat satu kepengurusan komite sekolah yang bersifat gabungan, juga boleh-boleh saja. Tergantung pertimbangan apa. Mungkin sumber daya tokoh-tokohnya cukup terbatas, mungkin dengan pertimbangan saling menguatkan dan saling memanfaatkan potensi masing-masing secara bersama-sama …” urai Pak Ruslan lagi.
Bu Ruslina dan Bu Ilham saling berpandangan. Keduanya, meski dengan ekspresi yang sangat berbeda, sama-sama menunjukkan rasa kurang percaya.
“Jangan-jangan nanti ada komite sekolah dari SD sampai SMA, ya BU …,” seloroh Bu Ilham.
“Ya tidak lah, Bu. Masak gabungan SD, SMP, dan SMA …,” timpal Bu Ruslina.
Pak Ruslan kembali tersenyum. “Pengurus komite sekolah gabungan SD sampai SMA, bila dianggap perlu dan disepakati oleh unsur masing-masing, juga boleh-boleh saja. Tidak ada larangannya sama sekali …”
Bu Ilham membelalak. “oleh ya, Pak. Tapi yang gabungan-gabungan tadi praktiknya sulit. Kecuali bila ada intruksi dari Pak Camat, Lurah atau Kepala Dinas Pendidikan …”
“Nah, ini yang perlu diluruskan lagi. Pengurus komite sekolah bersifat suka rela dan mandiri. Tidak ada hubungan hirarkis atau atasan-bawahan dengan sekolah maupun dengan lembaga pemerintah. Jadi Pak Camat, Lurah atau Kepala Dinas Pendidikan, bahkan Presiden sekalipun tidak berwenang memerintah pengurus komite sekolah juga tidak berhak memerintah kepala sekolah atau guru-guru. Ingat lho Bu, hubungannya adalah kemitraan demi kemajuan bersama …”
“Maksud saya, soal membuat pengurus komite gabungan beberapa sekolah tadi lho, Pak.”
“Tetap saja harus atas kerelaan dan kesepakatan anggota komite itu sendiri. Bukan karenaperintah atau instruksi …”
Bu Ilham manggut-manggut.
“Maaf Bu Ilham, permintaan SD yang tadi diceritakan ingin menggabung saja kepengurusan komitenya, akhirnya bagaimana? Saya kok penasaran …” tanya Bu Ruslina.
“Ya belum dibicarakan. Cuma, banyak peserta rapat yang merasa usulan dan permintaan ini aneh bin ganjil, Bu. Mestinya tadi Pak Ruslan didatangkan pakai helikopter ke tempat rapat. Terus diterjunkan dari udara … meluncur … memberikan penjelasan, terus dikembalikan ke sini lagi …” ujar Bu Ilham sambil menerangkan orang meluncur dengan tali dan memonyongkan bibirnya.
Bu Ruslina tertawa geli. “Wah, suami saya paling takut dengan ketinggian lho, Bu …”
“Jangan takut, Bu. Nanti meluncurnya saya dampingi. Dan ketika meluncur sebaiknya matanya ditutup …”
Pak Ruslan dan Bu Rusina tergelak.
Bu Ilham pun ikut tersenyum dengan senyum khasnya. “Oh ya, Pak. Ada hal aneh yang mau saya tanyakan lagi …”
“Soal aneh apa lagi, Bu,” jawab Pak Ruslan, masih dengan rasa geli yang belum habis.
“Tadi ada juga orang tua siswa yang memberitahu mau membentuk pengurus komite di kelas ananya, kelas 5. ini kan mengajak perpecahan, Pak …”
“Oh, bukan begitu, Bu. Pembentukan paguyuban atau komite kelas juga tidak masalah. Boleh-boleh saja. Apalagi bila niatnya adalah untuk membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas itu. Bisa saja dibuat program-program kemitraan dengan wali kelas masing-masing. Ini kan justru menunjukkan kepedulian yang tinggi. Sebaiknya, bentuk kepedulian seperti ini tidak dilihat sebagai bentuk perpecahan. Kan malah bisa saling mendukung dan saling menguatkan. Ujung-ujungnya, kualitas pendidikan disekolah itu akan semakin meningkat …”
“Waduh, saya lagi yang keliru …ternyata yang aneh justru saya ya, Pak. Begini saja, saya akan usul dalam berikutnya agar Pak Ruslan diangkat jadi staf ahli atau konsultan …..He…he..he. Anehkan?”
“Komite sekolah mengangkat staf ahli, konsultan atau pegawai juga boleh. Punya kantor disekolah, atau di luar sekolah, diruko misalnya, juga boleh. Pokoknya, apa yang baik untuk kemajuan sekolah dan meningkatnya partisipasi masyarakat, boleh-boleh saja….”
“Keliru lagi! Dari tadi jawabannya : boleh-boleh saja. Tak ada yang lain?” Bu Ilham cemberut. Justru wajahnya yang terlihat aneh : memelas tapi lucu. “Cemberut juga boleh, kan?”

RUA Zainal Fanani, Ketua Yayasan SPA Yogyakarta

Jenjang Kerjasama



Rupanya obrolan tentang kemitraan begiu menarik Pak Ilyas. Karena itu, begitu bertemu kembali dengan Bu Ilham, Pak Ilyas mengajak, sedikit memaksa, untuk bisa bertemu kembali dengan Pak Ruslan.
“Ayolah, Bu, ajak saya kerumah  Pak Ruslan lagi. Asyik juga ngobrol dengan beliau.Sekarang ini Pa Ruslan ada di rumah kan, Bu?”
“Wah, saya kan bukan ahli nujum, Pak. Biasanya sih kalau tidak sedang berpergian, Pak Ruslan ada di rumah …!” Jawab Bu Ilham sambil memutar kedua matanya.
“He…he…he, Bu Ilham ini cerdas sekali. Pak Ruslan kalau sedang tidak berpergian ya pasti ada di rumah. Kalau sedang berpergian pasti tidak ada di rumahnya …”
“Habis, Pak Hji Ilyas kelihatan penasaran sekali sih …”
“Betul, Bu. Saya tertarik sekali meneruskan obrolan tentang berbagai bentuk kerjasama dalam kemitraan. Selain harus kita ketahui sebagai pengurus Komite Sekolah, juga penting untuk pengetahuan saya sendiri sebagai usahawan..”
Akhirnya, karena didesak terus, akhirnya Bu Ilham bersedia mengantar Pak Haji Ilyas ke rumah Pak Ruslan.”lain kali kan bisa bersilaturahmi sendiri, Pak.”
“Gak asik, Bu. Lebih asik kalau ada Bu Ilham …”
Beruntung, Pak Ruslan dan Bu Rusliina tidak berpergian.”Alhamdulillah, karena tidak berpergian, Pak Ruslan ada dirumah…” seloroh Pak Haji Ilyas.
Bu Ilham memonyongkan bibirnya. Pak Haji Ilyas tertawa.
Subhanallah, antara Pak Haji Ilyas dan Bu Ilham itu tampak begitu kompak, “ komentar Bu Ruslina sambil menyajikan minuman.
“Ini tehnya ya, Bu . Mitranya mana?” Bu Ilham tampak mengernyitkan dahi da memonyongkan bibirnya.
“Mitra?” tanya Pak Haji Ilyas.
“Sebentar, Bu. Baru digoreng..”
Tiba-tiba Pak Haji Ilyas tergelak.
“Pisang goreng maksudnya…?
Bu Ilham pura-pura berwajah dingin. Tingkahnya lucu. “Sudah Pak, katamu mau tanya tentang kerja sama dalam kemitraan. Mumpung ada Pak Ruslan. Kalau ditanyakan pada saya, ya saya jawab kerjasama itu seperti saya dengan Bu Ruslina yang menggoreng pisang, saya yang mencicipi sekaligus membereskannya. Sama-sama untung kan? Bu Ruslina bisa menyalurkan bakat memasak. Saya membantu agar pisang gorengnya tidak sia-sia …”
Pak Ruslan tertawa.
“Jadi bentuk kerjasama itu apa saja, Pak?” tanya Pak Haji Ilyas.
“Tentu saya ada bentuk kerjasama. Saya malah menyebutkan jenjang …”
“Jenjang? Semacam tingkatan-tingkatan, Pak?”
“Benar. Ini memang penting diketahui oleh pengurus Komite Sekolah seperti Pak Haji Ilyas dan Bu Ilham …”
“Bisa dijelaskan agak detil, Pak?”
Pak Ruslan berdehe. “Yang harus saya sebut pertama adalah jenjang kerjasama dalam kemitraan yang disebut jaringan atau  networking. Maksudnya saling berbagi informasi yang dapat membantu mitranya bekerja lebih baik, mendapatkan kemudahan, pengalaman, bantuan, dsb. Bermanfaat tidaknya jaringan yang dimiliki yang sangat tergantung bagaimana kesigapan masing-masing dalam memanfaatkan informasi dan peluang yang ada …,” uraian Pak Ruslan.
“Selain itu, jaringan harus terus diperluas dan dikembangkan ya, Pak,” komentar Pak Haji Ilyas.
“Benar. Semakin luas jaringan semakin terbuka kesempatan untuk dimanfaatkan bagi kemajuan sekolah.”
“Pak Haji Ilyas bisa kenal Pak Ruslan kan melalui jaringan saya …,” sergah Bu Ilham. Gayanya seperti orang sok cuek. Lucu sekali.
“Memang tidak salah Bu Ilham dipilih jadi bendahara Komite. Jaringannya sagat luas …”
“Ya, termasuk jaringan listrik!” sergah Bu Ilham lagi. Masih dengan gaya sok cuek.
Pak Ruslan dan Pak Haji Ilyas kembali tertawa.
“Jenjang berikutnya adalah koordinasi. Yang ini adalah berbagi informasi dan melakukan penyesuaian sehingga menghindari salah satu pengertian, persaingan yang tidak sehat, atau konflik. Sering terjadi antara dua taua lebih pihak bila kurang dilakukan koordinasi, terjadinya kegiatan yang sama atau kegiatannya berbeda tapi waktunya bersamaan, sehinggadua-duanya justru kurang optima. Lemahnya koordinasi juga dapat menimbulkan rasa saling curiga, keputusan yang salah atau berlebihan, pengeluaran dana yang tidak perlu, dsb.”
Makanya Pak, sebelum ke sini saya tadi melakukan koordinasi dengan Bu Ilham, supaya tidak ada salah pengertian..”
Bu Ilham merengut. Bibirnya dimonyongkan. “Maaf , Pak Ruslan, saya harus segera melakukan koordinasi dengan Bu Ruslina di dapur, agar pisang gorengnya bisa segera hadir menemani tehnya…”
Meski tersenyum mendengar kata-kata Bu Ilham, Pak Haji Ilyas tampak semakin penasaran dengan penjelasan Pak Ruslan.
“Jenjang selanjutnya?”
“Selanjutnya adalah koperasi. Dalam hal ini, upaya saling berbagi informasi dan bekerjasama secara nyata, namun ada beberapa aspek pekerjaan yang menjadi tanggung jawab masing-masing.”
Pak Haji Ilyas tampak manggut-manggut. “Masih ada jenjang yang lain?”
“Ada.Jenjang yang justru ingin lebih banyak dicapai melalui konsep kemitraan, yang disebut kolaburasi.”
“Apa itu, Pak?”
“Bentuk kerjasama ini mirip koperasi, namun masing-masing berbagi tanggung jawqab berdasarkan bidang keahlian dan akhirnya berbagi hasil secara bersama-sama. Artinya, berbagi segalanya, termasuk berbagi resiko. Kolaburasi akan menjadi sempurna bila terjadi sinergi, yaiu bila masing-masing pihak saling mengisi, untuk mencapai tujuan bersama, dengan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dilakukan sendiri-sendiri...”
“Wah, ini ideal sekali ya, Pak? Saya sangat…”
Obrolan tiba-tiba terhenti. Bu Ruslina muncul diiringi Bu Ilham yang membawa sepiring pisang goreng hangat. “Nah, ini hasil koordinasi kami…,” ujarnya.
Pak Ruslan tertawa. Bu Ruslina hanya terbengong-bengong.  

RUA Zainal Fanani, Ketua Yayasan As Sakinah Yogyakarta

Prinsip Dasar Kemitraan



Hari Raya Idhul Fitri disambut dengan suka cita oleh segenap umat Islam. Setelah menjenguk orang tua masing-masing. Pak Rusan dan Bu Ruslina, tentu bersama Angga putri mereka, kembali lagi ke rumah. Mereka harus bersiap-siap menyambut banyak tamu. Pak Ruslan dan Bu Ruslina pun telah merencanakan bersilaturahmi ke beberapa sahabat mereka. Salah satunya, tentu saja Bu Ilham.
Sore harinya, mereka pun bersialturahmi ke rumah Bu Ilham. Kebetulan di rumah Bu Ilham sudah ada Pak Haji Ilyas yang disertai istrinya ….
“Ini berkah jadi bendahara Komite Sekolah, Pak. Saya nggak mimpi lho didatangi temantin baru pengusaha krupuk yang sukses.” Seloroh Bu Ilham. Bu Ratmi, istri Pak Haji Ilyas, tersenyum agak malu. “Lha, sekarang malah yang datang mitra lama .. Silahkan Pak Ruslan, Bu Ruslina …”
Suasana akrab langsung terasa. “Mari .. silakan dimakan kuenya. Saya dan Abror yang membuatnya. Cuma ini adanya. Kalau mau krupuk super gurih, nanti di rumah Pak Haji Ilyas. Kalau pengin pisang goreng paling lezat di dunia, ya di rumah Bu Ruslina …”
Di tengah obrolan yang penuh canda, sekali waktu muncul juga diskusi tentang Komite Sekolah. “Saya senang sekali bisa berkenalan dengan Pak Ruslan ..”
“Jangan lupa profesornya, Pak Ilyas,” sergah Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya.
Pak Haji Ilyas, Pak Ruslan dan Bu Ruslina tertawa. Hanya Bu Ratmi yang terlihat kurang begitu mengerti.
“Penjelasan Bapak tentang sifat dasar kemitraan tempo hari terus saya renungkan. Kadang saya berpikir, bagaimana ya caranya agar kemitraan itu bisa terus berjalan dengan lancar? Apa yang harus kami lakukan?
“Betul, Pak. Saya kadang juga khawatir, jangan-jangan kemitraan dengan sekolah yang awalnya tampak menyenangkan, lama-lama jadi tidak harmonis ….”
“Nah, dalam hal ini masing-masing pihak yang bermitra harus mengikuti prinsip-prinsip kemitraan ….,” ujar Pak Ruslan.
Ada beberapa prinsip, Pak?” tanya Bu Ilham. Kali ini tampak serius. Tapi mimik wajahnya malah tampak lucu.
“Dalam teori disebut ada 5 prinsip. Dikenal dengan singkatan PACTS. Sebenarnya “pacts” sendiri dalam bahasa Inggris juga punya arti kesepakatan  ….”
“Wah, harus diterangkan satu persatu, Pak. Ini enting buat saya. Bukan hanya untuk menjalankan amanah sebagai pengurus Komite Sekolah, tapi juga berbisnis krupuk …”Pak Haji Ilyas terlihat begitu semangat. Kacamata minusnya yang melorot langsung dinaikkan kembali. Bu Ratmi tersenyum-senyum melihat tingkah suaminya yang tampak melotot tak berkedip.
“Aduh, Pak Ruslan mulai pakai istilah yang sulit-sulit ya …”Bu Ilham merengut.
“P…A…C…T…S… Yang pertama huruf P, kepanjangannya participation atau partisipasi. Kemitraan hanya dapat terjadi bila masing-masing bersedia dan berkesempatan untuk berpatisipasi secara aktif dan iklas …”
“Benar sekali, Pak. Ini prinsip. Kalau tidak saling berpatisipasi pasti kemitraan tak akan berjalan,” timpal Pak Haji Ilyas dan antusias. “Lalu, yang kedua?’
“A…..acceptable atau saling menerima. Maksudnya, masing-masing pihak harus menerima kehadiran dan fungsi masing-masing. Kehadiran pihak lain tak boleh dilihat sebagai penghalang atau pengacau. Sebaliknya, tak boleh ada niat atau upaya untuk menghambat atau mengacau fungsi pihak lain. Masing-masing harus mencari titik temu untuk kemajuan bersama …”
“Wah, bagus sekali itu, Pak,” celetuk Bu Ratmi. Pak Haji Ilyas tersenyum bangga.
“Ini justru sulitnya. Untuk bisa terus saling menerima kan butuh saling berprasangka baik …Istilahnya apa itu? Khusnul Khotimah …?”Bu Ilham angkat bicara.
Pak Hji Ilyas dan Pak Ruslan tertawa.”Khusnudzdzon, Bu…”
Bu Ilham kembali merengut. Bibirnya dimonyongkan. Panjang sekali …
“Lalu berikunya huruf C, communication, komunikasi. Ini prinsip yang penting. Banyak masalah didunia ini ternyata adalah masalah kurang atau buruknya komunikasi. Kemitraan di komite sekolah juga begitu. Masing-masing pihak harus aktif menjalin komunikasi. Caranay pun harus baik dan saling menjaga martabat …”
“Nah ini, martabat bendahara komite juga harus dijaga. Tidak boleh ditertawakan. Kalau soal bibir, itulah kelebihan saya. Jangan dihina …”Bu Ilham tersenyum-senyum.
“Memang betul, Pak. Kalau pengurus komite tidak aktif, komunikasi jadi kurang lancar. Akibatnya, perannya jadi sedikit. Yang lebih buruk, kalau ada yang mudah menyalahkan, lebih percaya dengan isu, atau menduga-duga tanpa dilandasi pengetahuan akan keadaan yang sebenarnya. Di usaha krupuk saya, ini juga pernah terjadi …”
Semua menggut-manggut. “T-nya apa, Pak?”
“Nah ini prinsip yang sangat penting: Trust, artinya percaya. Selain itu, semua keputusan dan tindakan harus bisa dipercaya. Kemitraan akan terganggu bila salah satu pihak atau masing-masing sudah curiga-mencurigai, saling menjatuhkan, ada yang mengkhianati amanah, membuat kubu-kubu untuk mencari kesalalan atau aib kubu lain …”
“Wah, kalau sudah begini runyam, Pak. Bisa hancur bersama. Mana mugkin sekolah bisa maju …”Pak Haji Ilyas tampak berapi-api.
“Contohnya yang bagus, ya Pak Ruslan dan Bu  Ruslina. Karena saling percaya, jadi pasangan super-harmonis, super-akur, dan super-kompak …”ujar Bu Ilham.
“Ah, Bu Ilham bisa saja. Sampai pakai super-super segala …Bisa saya kan Cuma bikin pisang goreng, Bu …”Bu Ruslina tampak tersipu-sipu.
“Nah ini yang saya lupa: pisang goreng super…!
“Yang terakhir S.S-nya “super” ya, Pak?” seloroh Pak Haji Ilyas.
Pak Ruslan tersenyum. “S-nya adalah Share,  artinya berbagi. Prinsipnya kemitraan harus dibangun diatas kesediaan untuk berkorban, salingmemberi dan menerima. Termasuk memberi masukan dan menerima kritik, demi kemajuan bersama. Yang penting sama-sama harus tulus…,”tandas Pak Ruslan.
“Betul. Nah ini kuenaya juga saya sediakan dengan niat tulus untuk berbagi. Lain hari saya iklas menerima pisang gorengnya Bu Ruslina …”.
Pak Ilyas tertawa. “Saya dengan istri saya juga selalu Sharing. Saling memberi dan menerima masukan. Makanya kami kelihatan selalu mesra …”
Bbu Ratmi pun mencubit lengan Pak Haji Ilyas dengan manja.

RUA Zainal Fanani, Ketua Yayasan SPA Yogyakarta

Sifat Dasar Kemitraan



Ada tamu istimewa sore ini dirumah Pak Ruslan. Tanpa dinyana, Bu Ilham mengajak beberapa teman sesama pengurus Komite Sekolah.
“Ini Pak Haji Ma’ruf, yang punya toko mebel itu lho, Pak. Mebelnya bagus-bagus dan murah-murah lagi. Apalagi kalau yang beli bendahara Komite…”ujar Bu Ilham sambil promosi.
Pak Haji Ma’ruf tersenyum-senyum. “Khusus untuk Bu Ilham, beli satu set meja-kursi tamu dapat bonus sebiji sapu ijuk…”selorohnya.
Semuanya tertawa, kecuali Bu Ilham yang selain tersenyum masih memonyongkan bibirnya. “Wah, kalau sapu ijuk dirumah saya juga banyak…”
“Saya Wibowo, Pak..”
“Nah, Pak Wibowo ini yang punya toko besar di pinggir jalan itu lho, Pak.”
“Ah, Cuma kecil-kecilan kok…”
“iya, kecil-kecilan tapi tokonya cukup untuk kandang 10 ekor gajah…”Kali ini bu Ilham yang berselorah. “Masih ditambah saya, pawangnya yang memang mirip gajah…!”
Kembali semuanya tak bisa menahan tawa.
“Yang berkaca mata itu Pak Haji Ilyas. Saya yakin Pak Ruslan sudah sering menikmati krupuk Barokah yang terkenal gurih  itu. Haji Ilyas adalah direktur merangkap kondekturnya ….”
“Direktur dan Kondektur? Bu Ilham ini ada-ada saja … Saya kan Cuma mengelola amanah Allah ….”
Begitulah. Suasana rumah Pak Ruslan jadi penuh canda-tawa karena ada Bu Ilham. Bu Ruslina pun ikut merasa terhibur.
“Kami ini baru pertama kali jadi pengurus Komite Sekolah. Masih banyak hal yang belum kami mengerti mengenai seluk-beluk komite. Kata Bu Ilham, beliau punya guru besar dalam masalah ini. Jadi kami bisa banyak bertanya ….,” kata Pak Wibowo.
“Ya beliaulah yang selalu saya ceritakan: Profesor Ruslan! Dan yang sebelahnya itu Bu Ruslina, istri beliau, yang sedang menyiapkan pabrik pisang goreng untuk di ekspor ke …rumah saya …!”
Semuanya tergelak lagi.
“Apalah artinya saya. Saya kan Cuma seorang guru. Di komite kan ada Pak Farhan Santosa. Beliau pakar pendidikan kan?”
“Benar, sayangnya untuk 6 bulan ini beliau minta izin tidak aktif karena menyelesaikan studinya di Malaysia. Yah, ahirnya kami terima tawaran Bu Ilham untuk bersilaturahmi ke rumah pak …eh …Profesor Ruslan ….,”ujar Haji Ilyas.
Pak Ruslan dan Bu Ruslina tersenyum-senyum. Ini semua gara-gara Bu Ilham.
“erus terang, ketika Pak Farhan berkali-kali menekankan bahwa Komite Sekolah adalah mitra bagi sekolah, saya masih belumbegitu paham. Mau saya tanyakan, sekarang beliau malah sudah berangkat ke Malaysia. Bagaimana ini Pak Ruslan ..?”
Pak Ruslan tampak menghela nafas. “Hubungan komite Sekolah dengan pengelola sekolah memang kemitraan. Saya kira, bapak-bapak yang menjadi pengusaha sudah sangat paham. Untuk mencapai tujuan bersama, kemitraan adalah bentuk hubungan yang terbaik. Aneh sekali bila hubungan antara komite dengan pihak sekolah adalah persaingan. Akibatnya buruk sekali: berebut pengaruh, saling menjatuhkan, saling tidak peduli, suka mencari-cari dan memanfaatkan kelemahan pihak lain, dsb. Ini jelas bertentangan dengan tujuan dibentuknya Komite Sekolah sebagai wadah partisipasi masyarakat untuk peningkatan mutu pendidikan …”
“Waduh, ini yang bikin gonjang-ganjing dunia …Kalau ingin maju ya harus kompak, saling membantu, peduli, mesra. Harus mesraaaaa ….!” Komentar Bu Ilham dengan mimik wajah lucu.
“Agar kemitraan berjalan dengan baik, kita harus memiliki 4 sifat dasar. Pertama, bersifat jangka panjang. Jadi, perlu diusahakan agar hubungannyaharmonis dan dilandasi oleh tujuan yang mendasar, tidak hanya berpikir untuk keuntungan sesaat saja.”
Bu Ilham manggut-manggut.
kedua, fokusnya adalah pemecahan masalah bersama untuk mencapai tujuan bersama. Masing-masing harus berpikir solusi dan sadar akan tujuan pokok yanga akan dicapai : kemajuan dunia pendidikan.”
“Nah, ini yang kadang kurang disadari, Pak. Akibatnya, pihak sekolah merasa direcoki, ada komite malah repot. Atau sebaliknya, Komite Sekolah merasa hanya dimanfaatkan dan dijadika  sapi perahan saja …”
“Sapi? Sapinya siapa,Pak Ma’ruf? Tanya Bu Ilham dengan mata membelalak.
Semuanya tertawa berderai. Bu Ruslina malah sampai mengeluarkan air mata.
Sambil berusaha menahan tawa, Pak Ruslan melanjutkan, “Itulah sebabnya dibutuhkan sifat dasar yang ketiga, dilandasi nilai-nilai yang luhur.”
“Nilai-nilai luhur? Bisa agak dirinci, Pak?” tanya Pak Wibowo.
“Yang dimaksud dengan nilai-nilai luhur adalah kejujuran, keterbukaan, saling percaya, saling mempedulikan, rasa setara, dsb. Hubungan kemitraan akan hancur bila keduanya tidak jujur, tertutup, saling curiga, tidak peduli, atau saling mendominasi. Nilai-nilai luhur ini harus benar-benar dijaga bersama-sama …”
“Subhanallah, benar sekali. Dalam berbisnis pun juga harus begitu. Kita harus menjaga kepercayaan, jujur dan amanah. Saya kira Pak Haji Ilyaas tahu persis,” komentar Pak Haji Ma’ruf.
“Kalau kita ingin berhasil memang harus begitu. Di rumah tangga pun saya juga begitu. Saling terbuka, jujur, saling percaya …”
“Wah, mentang-mentang Haji Ilyas ini temantin baru…”sergah  Bu Ilham. Haji Ilyas langsung tersipu-sipu.
“Saya juga setuju dengan Pak Haji Ilyas. Hubungan kemitraan mirip dengan hubungan suami-istri. Inilah sifat dasar kemitraanb yang keempat, saling bergantung.Artinya, dilandasi oleh kesadaran saling membutuhkan. Untuk ini masing-masing pihak harus sadar tentang peran dan fungsi masing-masing …”
“Saya setuju. Misalnya, hari ini Bapak-bapak berperan sebagai tamu yang perlu tambahan ilmu. Saya berperan sebagai orang yang mengantarkan, Pak Ruslan berperan dan berfungsi sebagai orang yang memberi penjelasan Dan Bu Ruslina …sebentar lagi akan berperan sebagai orang yang menyediakan teh hangat dan pisang goreng, karena sebentar lagi kita berbuka puasa …”
Tentu saja semuanya tertawa. Termasuk Bu Ruslina.

RUA Zainal Fanani, Ketua Yayasan SPA Yogyakarta